<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3789100955354128565</id><updated>2012-02-03T07:14:36.642+07:00</updated><category term='+ Socio Medicine Studies'/><category term='Writer: Adlil Umarat'/><category term='- IAIC'/><category term='Dewan Eksekutif Pusat IAIC'/><category term='+ Nature Studies'/><category term='+ Socio Science Studies'/><category term='Writer: Abdullah Arifianto'/><category term='+ Technology Studies'/><category term='Writer: Denny Juzaili'/><category term='- Umum'/><category term='Writer: Farid Abdul Hadi'/><category term='+ Economic Studies'/><category term='Writer: Syarif Alhadrami'/><category term='Writer: Yuti Ariani'/><category term='+ Education Studies'/><category term='Writer: Maisya Farhati'/><title type='text'>Legacy [ e-Buletin ILC ]</title><subtitle type='html'>we (iAic) provide you some uses for free. we are a band of people which had willingness to do more, we admited: poverty, and lack of mindset is the problem of this nation. for some reason like that we think some inovation must be priceless or free to give much of solution of poverty problem, lack of mindset problem, and other problem that faced by this nation. Some of our dedicated project is slow but surely make the people realize the globalizing of knowledge, how to scripting an idea.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://legasi.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3789100955354128565/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://legasi.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>abie...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02549874199668367769</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Za5IW0UNiQQ/SQ-6iJ6eTeI/AAAAAAAAAAk/qkgZRTK0saU/S220/crop_ando4.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>27</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3789100955354128565.post-2273664142869839700</id><published>2008-04-10T16:08:00.001+07:00</published><updated>2008-04-10T16:09:52.529+07:00</updated><title type='text'>Kami Pindah</title><content type='html'>We are Moving...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;untuk menopang pengembangan dari ILC dan Legasi, maka kami memutuskan untuk memperbesar rumah kami...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a style="font-weight: bold;" href="http://ilc.insancendekia.org"&gt;Kunjungi kami&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3789100955354128565-2273664142869839700?l=legasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://legasi.blogspot.com/feeds/2273664142869839700/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3789100955354128565&amp;postID=2273664142869839700' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3789100955354128565/posts/default/2273664142869839700'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3789100955354128565/posts/default/2273664142869839700'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://legasi.blogspot.com/2008/04/kami-pindah.html' title='Kami Pindah'/><author><name>abie...</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3789100955354128565.post-9155614278023899260</id><published>2007-11-24T09:22:00.001+07:00</published><updated>2007-11-26T13:36:58.562+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='+ Socio Science Studies'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Writer: Denny Juzaili'/><title type='text'>OTONOMI DAERAH, MITE BARU PEMBANGUNAN WILAYAH</title><content type='html'>&lt;div class="gmail_quote"&gt;Sudah sangat lama sekali negeri Indonesia melupakan salah satu nilai dasar yang terdapat dalam pancasila, yaitu nilai desentralisasi. 54 tahun membangun, 1945—1999, pembangunan Indonesia hanya berkutat pada wilayah sekitar ibukota, hingga akhirnya pada tahun 1999 pemerintah membuat Undang-undang tentang pemerintahan daerah, Pasal 10 UU  No.22 Th.1999, ayat 1 menyebutkan daerah berwenang mengelola sumber daya alam nasional yang tersedia di wilayahnya dan bertanggungjawab memelihara kelestarian lingkungan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Sejak diundangkannya undang-undang ini maka dimulailah babak baru dalam pembangunan daerah di negara Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;div class="gmail_quote"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desentralisasi sejatinya adalah salah satu cara untuk mendekatkan pemerintah dengan rakyat. Hal ini jelas tercermin dari beberapa ekses turunan dari desentralisasi, yaitu kepentingan rakyat lokal lebih diutamakan (dibanding masa sebelumnya yang sebagian besar kekayaan alam menjadi konsumsi pusat saja). Kekayaan alam yang terkandung di suatu daerah akan selalu menjadi primadona bagi pihak pun.[3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekayaan alam memang tidak pernah lepas dari berbagai kepentingan, yaitu kepentingan negara, kepentingan modal  dan kepentingan rakyat. Dalam konteks negara Indonesia, kekayaan alam adalah tulang punggung bagi tetap terselenggaranya pemerintahan. Pasal 6 UU  No.25 Th 1999 menyatakan produksi gas alam dan minyak masing-masing 70% dan 85% menjadi hak pemerintah. Sektor-sektor lainnya yang diberikan kepada daerah untuk mengembangkannya secara mandiri adalah misalnya sektor perkebunan, hutan, dan perikanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Angin Baru?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selintas pandang kebijakan penerapan otonomi daerah merupakan hal baru yang revolusioner. Bayang-bayang akan bangkitnya ekonomi lokal, hilangnya penindasan pemerintah pusat kepada pemerintah daerah, dan berbagai pembangunan di tingkat lokal (provinsi maupun kabupaten/kota) menjadi suatu aphrodisiac yang mengangkat kembali gairah kehidupan lokal yang sebelumnya seperti pasrah menunggu kebaikan hati pemerintah pusat. Namun kenyataan yang akan dihadapi tampaknya (dan seharusnya) tidak akan semudah yang dibayangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal tersebut dikarenakan paling tidak terdapat dua hal yang menjadi variabel penting dalam pembangunan regional yang hingga saat ini belum terlalu terpenuhi. Di dalam salah satu esai Dr. Ari Kuncoro disebutkan daya tarik suatu daerah dan beberapa faktor penentu daya saing menjadi faktor dominan dalam usaha mengembangkan wilayah. Daya tarik tersebut adalah yang bersifat alamiah, buatan manusia, dan sosio-ekonomi. Sedangkan faktor penentu daya saing yaitu prasarana, akses, tenaga listrik, permintaan pasar, iklim usaha, dan keanekaragaman lingkungan usaha. Karena hal ini merupakan variabel maka pasti tidak akan membuahkan hasil yang sama pada setiap region/wilayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai dengan apa yang ditesiskan Dr. Ari Kuncoro maka dalam hal otonomi daerah ini kebijakan pembangunan wilayah mencakup pembangunan industri berat maupun ringan akan sangat bergantung kepada kekayaan alam dan kekayaan sosial yang tersimpan di daerah tersebut. Provinsi Kepulauan Riau yang kaya raya dan Provinsi Nusa Tenggara Barat yang kering kerontang pasti akan berbeda nasib. Beberapa minggu lalu Provinsi Kepri baru saja menyelenggarakan Riau Investment Summit, di lain pihak NTB baru saja mendapat musibah busung lapar. Keadaan tersebut secara abstrak dapat menjadi gambaran bahwa penetapan otonomi daerah tidak selalu menghasilkan dampak positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mite Pembangunan Daerah?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa penjabaran singkat tentang konsep otonomi daerah dan syarat cukup dan perlu di atas menggiring pada satu pertanyaan "Apakah otonomi daerah hanya mitos bagi pengembangan daerah di Indonesia?" Jelas hal ini patut dipertanyakan. Pertama, Corak kepemimpinan sentralistik pada masa lampau telah hampir membuat daerah kehilangan kemampuan mengatur dirinya sendiri. Bagi daerah, kebutuhan akan investor asing sangat nyata agar bisa menggerakkan perekonomian, secara mereka tidak lagi dapat bergantung kepada anggaran yang diberikan pemerintah pusat. Namun tentu saja investor asing tidak serta merta menanamkan modalnya pada daerah yang kering dan tidak berprospek secara komersial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, pada saat ini kondisi sosio-ekonomi negara indonesia sedang dalam keadaan yang tidak kondusif. Upah regional menjadi perdebatan, tingkat pendidikan yang ada juga belum mencukupi untuk menjadi "brainware" dan penggerak dalam pembangunan ekonomi daerah, ditambah daya beli masyarakats yang rendah. Menjadi logis apabila kita patut pesimis akan keefektifan pelaksanaan otonomi daerah pada semua daerah. Tesis seorang ilmuwan sosial Michael P Todaro yang mendefinisikan pembangunan ekonomi sebagai suatu proses multidimensional yang melibatkan perubahan besar secara sosial dalam ekonomi, menguatkan kelogisan pesimisme tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, penerapan otonomi daerah ditenggarai hanya merupakan kebijakan yang asal-asalan. Hal ini diperkirakan terjadi karena pemerintah pusat pada saat ini sudah terdesak dengan berbagai defisit ekonomi, kebangkrutan, dan beban utang yang menggunung. Pemerintah pusat pun belum cukup membekali daerah dengan infrastruktur yang baik. Bahkan APBN 2008 menetapkan 70% anggaran infrastruktur difokuskan hanya untuk pulau Jawa, daerah lain masih tetap menjadi anak tiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penetapan otonomi daerah tidak boleh atas dasar reaktifitas karena ketidakmampuan pemerintah pusat mengayomi daerah-daerah. Jelas mendelegasikan tanggung jawab kepada pihak yang tidak kompeten[4] walaupun dibungkus dengan niat untuk memandirikan, memajukan, dan mempercepat pembangunan daerah, reaktifitas tersebut adalah tidak bijaksana karena pada akhirnya rakyat juga yang akan menjadi korban ketidaksiapan para birokrat mengartikulasikan otonomi daerah menjadi kebijakan-kebijakan yang dapat memaksimalkan potensi daerah.[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya kesiapan pemerintah daerah dan perhatian pemerintah pusat atas apa yang berlaku menjadi kunci penting dalam memaksimalkan manfaat dari otonomi daerah dalam rangka membangun daerah. Kecukupan dan ketersediaan unsur-unsur pembangunan harus terpenuhi. Tanpanya, maka otonomi daerah hanya akan menjadi mitos bagi pembangunan daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(136, 136, 136);"&gt;Denny Juzaili&lt;br /&gt;Departemen Manejemen, Universitas Indonesia&lt;br /&gt;&lt;a href="http://dennyjuzaili.wordpress.com/" target="_blank"&gt;http://dennyjuzaili.wordpress.com&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3789100955354128565-9155614278023899260?l=legasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://legasi.blogspot.com/feeds/9155614278023899260/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3789100955354128565&amp;postID=9155614278023899260' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3789100955354128565/posts/default/9155614278023899260'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3789100955354128565/posts/default/9155614278023899260'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://legasi.blogspot.com/2007/11/fwd-otonomi-daerah-mite-baru.html' title='OTONOMI DAERAH, MITE BARU PEMBANGUNAN WILAYAH'/><author><name>abie...</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3789100955354128565.post-530670223975425209</id><published>2007-01-16T20:58:00.000+07:00</published><updated>2007-01-16T21:09:01.066+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='+ Socio Medicine Studies'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Writer: Syarif Alhadrami'/><title type='text'>FIBROADENOMA MAMMAE</title><content type='html'>&lt;span&gt;&lt;strong&gt;Pendahuluan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Fibroadenoma mammae adalah tumor jinak yang sering terjadi di&lt;br /&gt;payudara. Benjolan tersebut berasal dari jaringan fibrosa (mesenkim) dan&lt;br /&gt;jaringan glanduler (epitel) yang berada di payudara, sehingga tumor ini disebut&lt;br /&gt;sebagai tumor campur (mix tumor), tumor tersebut dapat berbentuk bulat atau&lt;br /&gt;oval, bertekstur kenyal atau padat, dan biasanya nyeri. Fibroadenoma ini dapat&lt;br /&gt;kita gerakkan dengan mudah karena pada tumor ini terbentuk kapsul sehingga&lt;br /&gt;dapat mobil, sehingga sering disebut sebagai ”breast mouse”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Etiologi dan Epidemiologi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Penelitian saat ini belum dapat mengungkap secara pasti apa penyebab&lt;br /&gt;sesungguhnya dari fibroadenoma mammae, namun diketahui bahwa pengaruh&lt;br /&gt;hormonal sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dari fibroadenoma&lt;br /&gt;mammae, hal ini diketahui karena ukuran fibroadenoma dapat berubah pada&lt;br /&gt;siklus menstruasi atau pada saat kehamilan. Perlu diingat bahwa tumor ini&lt;br /&gt;adalah tumor jinak, dan fibroadenoma ini sangat jarang atau bahkan sama sekali&lt;br /&gt;tidak dapat menjadi kanker atau tumor ganas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fibroadenoma mammae biasanya terjadi pada wanita usia muda, yaitu&lt;br /&gt;pada usia sekitar remaja atau sekitar 20 tahun. Berdasarkan laporan dari NSW&lt;br /&gt;Breats Cancer Institute, fibroadenoma umumnya terjadi pada wanita dengan usia&lt;br /&gt;21-25 tahun, kurang dari 5% terjadi pada usia di atas 50, sedangkan&lt;br /&gt;prevalensinya lebih dari 9% populasi wanita terkena fibroadenoma. Sedangkan&lt;br /&gt;laporan dari Western Breast Services Alliance, fibroadenoma terjadi pada wanita&lt;br /&gt;dengan umur antara 15 dan 25 tahun, dan lebih dari satu dari enam (15%)&lt;br /&gt;wanita mengalami fibroadenoma dalam hidupnya. Namun, kejadian&lt;br /&gt;fibroadenoma dapat terjadi pula wanita dengan usia yang lebih tua atau bahkan&lt;br /&gt;setelah menopause, tentunya dengan jumlah kejadian yang lebih kecil&lt;br /&gt;disbanding pada usia muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Diagnosis&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Fibroadenoma dapat didiagnosis dengan tiga cara, yaitu dengan&lt;br /&gt;pemeriksaan fisik (phisycal examination), dengan mammography atau&lt;br /&gt;ultrasound, dengan Fine Needle Aspiration Cytology (FNAC). Pada pemeriksaan&lt;br /&gt;fisik dokter akan memeriksa benjolan yang ada dengan palpasi pada daerah&lt;br /&gt;tersebut, dari palpasi itu dapat diketahui apakah mobil atau tidak, kenyal atau&lt;br /&gt;keras,dll. Mammography digunakan untuk membantu diagnosis, mammography&lt;br /&gt;sangat berguna untuk mendiagnosis wanita dengan usia tua sekitar 60 atau 70&lt;br /&gt;tahun, sedangkan pada wanita usia muda tidak digunakan mammography,&lt;br /&gt;sebagai gantinya digunakan ultrasound, hal ini karena fibroadenoma pada wanita&lt;br /&gt;muda tebal, sehingga tidak terlihat dengan baik bila menggunakan&lt;br /&gt;mammography.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada FNAC kita akan mengambil sel dari fibroadenoma dengan&lt;br /&gt;menggunakan penghisap berupa sebuah jarum yang dimasukkan pada suntikan.&lt;br /&gt;Dari alat tersebut kita dapat memperoleh sel yang terdapat pada fibroadenoma,&lt;br /&gt;lalu hasil pengambilan tersebut dikirim ke laboratorium patologi untuk diperiksa di&lt;br /&gt;bawah mikroskop. Dibawah mikroskop tumpor tersebut tampak seperti berikut :&lt;br /&gt;a. Tampak jaringan tumor yang berasal dari mesenkim (jaringan ikat fibrosa) dan&lt;br /&gt;berasal dari epitel (epitel kelenjar) yang berbentuk lobus-lobus; b. Lobuli terdiri&lt;br /&gt;atas jaringan ikat kolagen dan saluran kelenjar yang berbentuk bular&lt;br /&gt;(perikanalikuler) atau bercabang (intrakanalikuler); c. Saluran tersebut dibatasi&lt;br /&gt;sel-sel yang berbentuk kuboid atau kolumnar pendek uniform&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Terapi (treatment)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Terapi untuk fibroadenoma tergantuk dari beberapa hal sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Ukuran&lt;br /&gt;2. Terdapat rasa nyeri atau tidak&lt;br /&gt;3. Usia pasien&lt;br /&gt;4. Hasil biopsy&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terapi dari fibroadenoma mammae dapat dilakukan dengan operasi&lt;br /&gt;pengangkatan tumor tersebut, biasanya dilakukan general anaesthetic pada&lt;br /&gt;operasi ini. Operasi ini tidak akan merubah bentuk dari payudara, tetapi hanya&lt;br /&gt;akan meninggalkan luka atau jaringan parut yang nanti akan diganti oleh jaringan&lt;br /&gt;normal secara perlahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Referensi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;1. The Ottawa Hospital Women’s Braest Health Center&lt;br /&gt;2. www.breastcancercare.org.uk&lt;br /&gt;3. NSW Breast Cancer Institute&lt;br /&gt;(www.bci.org.aupublicguides_Mar06Fibroadenoma%20111005.pdf-)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Syarif Alhadrami&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Faculty of Medicine Gajah Mada University&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3789100955354128565-530670223975425209?l=legasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://legasi.blogspot.com/feeds/530670223975425209/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3789100955354128565&amp;postID=530670223975425209' title='15 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3789100955354128565/posts/default/530670223975425209'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3789100955354128565/posts/default/530670223975425209'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://legasi.blogspot.com/2007/01/fibroadenoma-mammae.html' title='FIBROADENOMA MAMMAE'/><author><name>abie...</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>15</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3789100955354128565.post-9002255308671264841</id><published>2007-01-16T20:47:00.000+07:00</published><updated>2007-01-16T20:53:22.800+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='+ Socio Medicine Studies'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Writer: Syarif Alhadrami'/><title type='text'>Acute Appendicitis</title><content type='html'>&lt;strong&gt;PENDAHULUAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Acute appendicitis atau radang apendiks akut merupakan kasus infeksi intraabdominal&lt;br /&gt;yang sering dijumpai di negara-negara maju, sedangkan pada negara&lt;br /&gt;berkembang jumlahnya lebih sedikit, hal ini mungkin terkait dengan diet serat yang&lt;br /&gt;kurang pada masyarakat modern (perkotaan) bilang dibandingkan dengan masyarakat&lt;br /&gt;desa yang cukup banyak mengkonsumsi serat. Appendicitis dapat menyerang orang&lt;br /&gt;dalam berbagai umur, umumnya menyerang orang dengan usia dibawah 40 tahun,&lt;br /&gt;khususnya antara 8 sampai 14 tahun, dan sangat jarang terjadi pada usia dibawah 2 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PATOFISIOLOGI&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Appendicitis dapat terjadi karena berbagai macam penyebab, antara lain obstruksi&lt;br /&gt;oleh fecalith, a gallstone, tumor, atau bahkan oleh cacing (Oxyurus vermicularis), akan&lt;br /&gt;tetapi paling sering disebabkan obstruksi oleh fecalith. Hasil observasi epidemiologi juga&lt;br /&gt;menyebutkan bahwa obstruksi fecalith adalah penyebab terbesar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada fase awal appendicitis, mukosa mengalami inflamasi terlebih dahulu.&lt;br /&gt;Kemudian inflamasi ini akan meluas ke lapisan submukosa, termasuk juga lapisan&lt;br /&gt;muskularis dan lapisan serosa. Terbentuk pula eksudat fibrinopurulen pada permukaan&lt;br /&gt;serosa dan menyebar ke dinding peritoneal terdekat, sehingga menyebabkan peritonitis.&lt;br /&gt;Pada fase ini glandula mukosa yang nekrosis masuk ke dalam lumen usus, sehingga&lt;br /&gt;menyebabkan terjadinya nanah atau pus di dalam lumen. Akhirnya, pembuluh-pembuluh&lt;br /&gt;kapiler yang mensuplai darah ke appendix mengalami trombose dan appendix yang&lt;br /&gt;infark tersebut menjadi nekrosis atau gangrenous. Setelah mengalami nekrosis, appendix&lt;br /&gt;dapat mengalami perforasi, sehingga kandungan yang terdapat dalam lumen appendix,&lt;br /&gt;seperti pus, dapat menyebar di cavitas peritoneal dan menimbulkan peritonitis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;TANDA-TANDA KLINIS&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pada appendicitis klasik, mula-mula pasien merasakan nyeri pada bagian tengah&lt;br /&gt;abdominal, tepatnya pada periumbilikal. Hal ini disebabkan oleh spasme otot yang&lt;br /&gt;merupakan reaksi terhadap obstruksi appendix. Selain nyeri tersebut pasien biasanya juga&lt;br /&gt;mual dan muntah. Setelah inflamasi berjalan 12-24 jam, inflamasi yang tadi hanya terjadi&lt;br /&gt;pada dinding appendix kini telah mencapai peritoneum bagian parietal (dipersarafi oleh&lt;br /&gt;saraf somatik), sehingga timbul rasa nyeri yang terlokalisasi di kuadran kanan bawah&lt;br /&gt;abdomen, biasanya peritonitis lokal ini juga ditandai dengan abdominal tenderness.&lt;br /&gt;Tanda-tanda dari appendicitis klasik ini dapat ditemukan kurang dari setengah kasus yang&lt;br /&gt;terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain tanda-tanda dari appendix klasik, ada juga tanda-tanda lain yang muncul&lt;br /&gt;pada appendicitis. Bila appendix berada di dekat rektum, maka itu dapat menyebabkan&lt;br /&gt;iritasi lokal dan diarrhoea. Bila appendix terletak dekat dengan vesica urinaria atau ureter,&lt;br /&gt;maka itu dapat menyebabkan dysuria dan pyuria (secara mikroskopik).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;DIAGNOSIS APPENDICITIS&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Appendisitis akut dapat didiagnosis secara klinis dengan anamnesis dan&lt;br /&gt;pemeriksaan fisik (physical examination). Selayaknya diagnosis sesegera mungkin&lt;br /&gt;ditegakkan dan appendix dapat segera diangkat bila ternyata terjadi appendisitis.&lt;br /&gt;Diagnosis menjadi mudah untuk ditegakkan bila tampak tanda dan gejala dari&lt;br /&gt;appendisitis klasik pada pasien, tanda dan gejala tersebut seperti: a. Nyeri pada bagian&lt;br /&gt;abdominal kurang dari 72 jam; b. Muntah 1-3 kali; c. Facial flush; d. Tenderness pada&lt;br /&gt;fossa iliaca kanan; e. Demam dengan suhu antara 37,3-38,5 °C; f. Tidak ada bukti terjadi&lt;br /&gt;infeksi traktus urinarius pada pemeiksaan urin dengan mikroskop.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanda inflamasi peritoneal bagian fossa iliaca kanan yang berupa rasa nyeri,&lt;br /&gt;sering tidak tampak. Untuk itu kita perlu untuk menyuruh pasien agar batuk, bila&lt;br /&gt;terjadi inflamasi pada peritoneum parietal maka pasien akan merasakan nyeri. Selain itu&lt;br /&gt;dapat dilakukan rebound tenderness untuk membantu menegakkan diagnosis, yaitu&lt;br /&gt;dengan melakukan perkusi pada fossa iliaca kanan, rasa nyeri akan diraskan oleh pasien&lt;br /&gt;akibat perkusi bila pasien tersebut mengalami peritonitis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat menegakkan diagnosis perlu juga diperhatikan diagnosis banding dari&lt;br /&gt;appendisitis. Kondisi lain yang sering mengkaburkan diagnosis appendisitis adalah&lt;br /&gt;infeksi traktus urinarius (cystis atau pyelonephritis), mesentetic adenitis, konstipasi,&lt;br /&gt;pankreatitis akut,dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;MANAJEMEN DARI APPENDICITIS&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pada pasien yang kita duga appendisitis kita dapat melakukan manajemen sebagai&lt;br /&gt;berikut. Bila kita mendapati pasien dengan nyeri pada fossa iliaca kanan, dan pasien itu&lt;br /&gt;memiliki tanda dan gejala lain dari appendisitis sehingga kita dengan yakin&lt;br /&gt;mendiagnosisnya sebagai appendisitis, maka segera lakukan appendicectomy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kita mendapati pasien dengan nyeri pada fossa iliaca kanan, namun belum&lt;br /&gt;dapat dipastikan diagnosis dari pasien tersebut apakah appendisitis atau penyakit lainnya,&lt;br /&gt;maka kita harus mereview pasien tersebut secara periodik, bila perlu pasien kita sarankan&lt;br /&gt;untuk rawat inap agar dapat dipantau perkembangannya dengan baik, bila setelah&lt;br /&gt;dipantau masih menimbulkan keraguan maka kita dapat melakukan pemeriksaanpemeriksaan&lt;br /&gt;yang dapat mendukung diagnosis, seperti memeriksa urine secara&lt;br /&gt;mikroskopis, X-ray, full blood count, dan serum amylase.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan bila kita mendapatkan pasien dengan keluhan nyeri pada fossa iliaca&lt;br /&gt;kanan, dan setelah kita pelajari ternyata pasien tidak mengalami appendisitis, maka kita&lt;br /&gt;harus memberi pengobatan sesuai dengan apa yang diderita pasien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Syarif Alhadrami&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Faculty of medicine Gajah Mada University&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3789100955354128565-9002255308671264841?l=legasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://legasi.blogspot.com/feeds/9002255308671264841/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3789100955354128565&amp;postID=9002255308671264841' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3789100955354128565/posts/default/9002255308671264841'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3789100955354128565/posts/default/9002255308671264841'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://legasi.blogspot.com/2007/01/acute-appendicitis.html' title='Acute Appendicitis'/><author><name>abie...</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3789100955354128565.post-5339618635866729383</id><published>2006-12-09T04:15:00.000+07:00</published><updated>2006-12-18T07:56:12.223+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='- IAIC'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dewan Eksekutif Pusat IAIC'/><title type='text'>Badan Semi Otonom IAIC</title><content type='html'>When people just know, prefer, than “more”..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejauh ini legalitas BSO baru mencapai SK Organisasi yang dikeluarkan oleh Kepengurusan Pusat IAIC. Ketika hanya mencangkupkinerja internal maka hal ini sudah lebih dari cukup, akan tetapi ketika BSO mewakili kebijakan strategis jangka panjang yang menlibatkan eksistensinya dalam Masyarakat secara umum, BSO ahrus memiliki legalitas yang lebih dari SK Organisasi. Akta Pendirian atau secara tersurat tercantum AD/ART adalah langkah berikutnya yang harus ditempuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum lebih jauh tentang legalitas BSO, ada baiknya saya menjelaskan visi yang dititipkan dalm BSO ini. Badan Semi Otonom IAIC mewakili pengejewantahan strategi kebijakan jangka panjang dan cara pencapaian. Akan tetapi BSO harus dibuat pula sedikit terikat dengan kepentingan IAIC, artinya tujuan puncak dari BSO ini adalah menopang agresifitas IAIC sebagai Organisasi, yang terbatasi dari ruang lingkup anggotanya. Artinya status sebagai alumni Insan Cendekia menjadikan IAIC sebagai sebuah Organisasi yang kenaggotaannya terbatas, dimana hal itu bila tidak disikapi akan menajdikan eksklusifisme sempit, yang menjadikan IAIC tidak dapat mendistribusikanmanfaatnya karena permasalahan internalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pencapaian Organisasi, BSO mengambil posisi sebagai “tangan panjang” dewan presidium, yang akan diusulkan pada Mubes IV ini, dengan kata lain perubahan ini dirasa perlu, karena bagaimanapun dinamisasi IAIC ahrus terus disesuaikan dengan perkembangan yang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selayaknya Institusi Otonom yang sedikit terikat, maka BSO memiliki keterikatan dalam hal tujuan puncak, dan menajdikan pengembangan IAIC bergantung secara penuh pada individu-individu yang concern didalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keanggotaan BSO tidak otomatis seperti keanggotaan IAIC, hanya anggota IAIC atau non-anggota (belum dibicarakan lebih lanjut) yang memang concern didalamnya yang dapat menajdi anggota BSO, tentu pula disesuaikan dengan prasyarat yang diinginkan oleh BSO tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh, Koperasi IAIC, hanya cukup mensyaratkan Anggota IAIC yang memiliki dana wajib sebesar Rp. 5.000,- (sejauh ini), dan non-Anggota IAIC yang memiliki dana potensial, tentu lebih dari sebesar Rp. 5.000,-.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ILC yang memberi syarat memiliki self belonging terhadap keilmuan dan keinginan dediaksi tanpa batas kepada Masyarakat secara umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pencinta Alama IAIC, yang memberi syarat tingkat loyalitas yang tinggi dengan penkaderan yang kuat, akan menjadi poris utama dalam pengembangan BSO ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali pada topik awal, pengembangan BSO ini bisa menjadi sebuah awal terbukanya ekslusifisme sempit IAIC, dan BSO ini juga menjadi garda depan pencapaian dedikasi kepada masyarakat luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang perlu diingat, pengembangan BSO tidak terpaku pada mekanisme IAIC secara gamblang, artinya perundangan dalam BSO diatur oleh BSO itu sendiri dan diawasi oleh Dewan Presidium IAIC. Dengan kata lain BSO adalah garda depan IAIC itu sendiri dalam perihal pengejewantahan dedikasi ke masyarakat luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk kedepannya perihal BSO ini bisa diakses melalui www.insancendekia.org, akan tetapi perlu dimengerti pula pengembangan IAIC maupun BSO ini akan menjadi lebih mudah bila diikuti pula oleh konsistensi dan kepedulian anggota IAIC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--&lt;br /&gt;ABDULLAH ARIFIANTO '02&lt;br /&gt;Site: [www.andoide.com]&lt;br /&gt;Blog: [ www.andocurhat.andoide.com ]&lt;br /&gt;YM: [ eaton_gai ]&lt;br /&gt;the man who has no imagination has no wings to fly high&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3789100955354128565-5339618635866729383?l=legasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://legasi.blogspot.com/feeds/5339618635866729383/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3789100955354128565&amp;postID=5339618635866729383' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3789100955354128565/posts/default/5339618635866729383'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3789100955354128565/posts/default/5339618635866729383'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://legasi.blogspot.com/2006/12/badan-semi-otonom-iaic.html' title='Badan Semi Otonom IAIC'/><author><name>IAIC Learning Center</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3789100955354128565.post-7576267078123773867</id><published>2006-12-01T09:16:00.000+07:00</published><updated>2006-12-17T13:40:23.202+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='- IAIC'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dewan Eksekutif Pusat IAIC'/><title type='text'>Restrukturisasi IAIC</title><content type='html'>&lt;em&gt;IAIC tidak akan bisa besar secara massif tapi ia bisa besar karena manfaatnya. &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Sebelum memahami akan perubahan struktur IAIC, anak judul dibawahnya ahrus dapat dipahami sebagai dasar pemikirannya.&lt;br /&gt;Sejauh ini IAIC berperan sebagai paguyuban bagi anggotanya, dan seiring dengan semakin berkembangnya individu didalamnya, mengakibatkan wadah yang dahulu tersa lapang, kini telah sempit, artinya cakupan IAIC harus diluaskan. Yang sebelumnya hanya bersifat masuk kedalam artinya memberi manfaat ke anggotanya kini diluaskan cakupannya dengan memberi manfaat ke luar, yakni masyarakat secara umum. Berikut pula harapan agar IAIC bisa lebih dari sekedar paguyuban bagi anggotanya, tapi juga sebagai sebuah sistem inkubator yang bisa mengembangkan anggotanya.&lt;br /&gt;Agar IAIC bisa seperti itu, maka ada sedikit perubahan-perubahan yang harus dilakukan, tahapan awal dengan melepas fungsi administrastif pada puncak kepemimpinan IAIC, artinya puncak kepemimpinan IAIC harus dikondisikan memiliki wewenang dan kebebasan menghasilkan kebijakan strategis untuk pengembangan IAIC dan anggotanya.&lt;br /&gt;Sebagai contoh kasus, ketika draft pengembangan alumni mau diajukan, ada permasalahan mendasar, yakni fungsi ketua yang masih terbebani dengan permasalahan administratif, sehingga masih mencoba mengoptimalkan kinerja kepengurusan. Dan pada kepengurusan ini diambil sebuah strategi mengoptimalkan fungsi yang ada, dan mulai menempatkan fungsi khusus pada tim yang bisa lebih independen dan optimal kinerjanya, yang ditandai dengan pembentukan BSO. Sehingga bisa dilihat bahwa kepengurusan sekarang menjadi bentuk kepengurusan transisi dalam rangka mempersiapkan IAIC yang lebih mantap.&lt;br /&gt;Puncuk kepemimpinan IAIC yang dilepas fungsi administratifnya (yakni ketua) digantikan dengan sebuah tim yang solid, diwakili oleh berbagai kalangan (angkatan) yang bisa memberi peran IAIC lebih dari sekedar paguyuban. Dan ini yang kita coba sebut dengan Dewan Presidium. Dan fungsi administratif ketua digantikan oleh sekretaris jenderal (sekjen) yang lebih fokus pada pengoptimalkan kinerja kepengurusan wilayah.&lt;br /&gt;Dalam menjalankan tugasnya sebenarnya secara sederhana dapat dijabarkan Dewan presidium mengkoordinasikan perihal "dedikasi ke masyarakat", dan sekretaris jendral mengkoordinasikan "silaturahmi" dengan mengoptimalkan peran IAIC wilayah. Fungsi stretegsi ini kemudian dapat dikembangkan dengan terus mengembangkan peranannya secara optimal.&lt;br /&gt;Kedua fungsional tersebut, dewan presidium dan sekretaris jenderal dan stafnya kita sebut badan eksekutif pusat dengan puncuk pimpinan tertinggi adalah dewan presidium.&lt;br /&gt;IAIC juga memerlukan menjalankan fungsi kepanesehatan, yang terdiri dari beberapa elemen, diantaranya dewan kehormatan, dimana dewan kehormatan adalah anggota IAIC yang diangkat menjadi dewan kehormatan, baik karena perannya dalam IAIC ataupun sebab lain. Lalu dewan penasehat, dewan penasehat adalah individu2 diluar dewan kehormatan yang dirasa perlu dimintai atau dilibatkan dalam pengembangan IAIC dalam sebuah kepengurusan. Dan kemudian pihak yang terkahir sebagai penasehat adalah pihak almamater yang diwakili oleh pejabat terkait.&lt;br /&gt;Restrukturisasi IAIC ini secara sederhana tidak akan mengalami perubahan signifikan, hanya perubahan dari sistem ketua menjadi sistem dewan. Akan tetapi bila mau melihat secara detail fungsi-fungsi dalam sebuah kepengurusan mampu bertambah luas, selain karena penambahan personel.&lt;br /&gt;Satu hal lagi yang menjadikan ini perubahan signifikan, dewan presidium dapat dipilih lepas angkatan, artinya siapa saja dapat menjadi anggota presidium (berjumlah 5orang), asalkan disepakati oleh mubes IAIC, dan pengembangan IAIC tidak terpaku dengan keterbatasan satu orang ketua saja.&lt;br /&gt;Akan tetapi perlu disadari bila uraian tersebut diatas harus kita pindahkan dalam bentuk uraian dalam AD/ART memerlukan kecermatan dalam mendeskripsikannya dalam bentuk pasal-pasal AD/ART, dan inilah yang kemudian dicoba dilakukan sebelum MUBES IV IAIC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yogyakarta, 30 Nopember 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--ABDULLAH ARIFIANTO&lt;br /&gt;Site: [&lt;a href="http://www.andoide.com/"&gt;http://www.andoide.com/&lt;/a&gt;]&lt;br /&gt;Blog: [ &lt;a href="http://www.andocurhat.andoide.com/"&gt;http://www.andocurhat.andoide.com/&lt;/a&gt; ]&lt;br /&gt;YM: [ eaton_gai ]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3789100955354128565-7576267078123773867?l=legasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://legasi.blogspot.com/feeds/7576267078123773867/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3789100955354128565&amp;postID=7576267078123773867' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3789100955354128565/posts/default/7576267078123773867'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3789100955354128565/posts/default/7576267078123773867'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://legasi.blogspot.com/2006/12/restrukturisasi-iaic.html' title='Restrukturisasi IAIC'/><author><name>IAIC Learning Center</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3789100955354128565.post-5106278814887467376</id><published>2006-11-29T17:24:00.000+07:00</published><updated>2006-12-17T13:35:21.638+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='- IAIC'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dewan Eksekutif Pusat IAIC'/><title type='text'>MUBES IAIC</title><content type='html'>&lt;em&gt;a step to make it (IAIC) forward&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Komik Fantasista dan Go yang sering saya baca di asrama waktu itu, yang berceritakan tentang permainan sepakbola, mengilhami satu cerita kepada saya. Yaitu tentang filosofi permainan sepakbola itu sendiri, membawa bola itu kedepan, walau cuma satu langkah semua orang harus berusaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, kita bercerita tentang IAIC, bila setiap orang melihat dalam satu lapangan besar yang berisi keseluruhan pemain, dan semua berusaha memajukan bola walau hanya satu langkah kedepan, dan dengan melihat satu lapangan besar yang berisi keseluruhan pemain, setiap orang akan melihat sampai sejauh mana bola itu bergulir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IAIC sekarang, berbeda dengan IAIC yang lampau, berbeda dengan IAIC yang dahulu dibentuk, berbeda dengan IAIC dua atau empat tahun yang lalu. Setiap kepengurusan IAIC memberikan warna dominan terhadap laju IAIC, apakah IAIC butuh Visi dan Misi Organisasi, atau biarkan hanya Visi dan Misi Kepengurusan, akan saya kupas pada kesempatan berikutnya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IAIC sekarang adalah IAIC yang ingin lebih membuka dirinya ke dunia luar, memberikan manfaat yang sebesar-besar apa yang bisa dilakukannya, tanpa menghilangkan poin dasar dari IAIC itu sendiri, yakni tali silaturahmi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berangkat dari perubahan itu, ada dua poin yang digarisbawahi dan yang menjadi langkah yang mesti dikukuhkan terus pada IAIC dan anggotanya, yakni pengeratan tali silaturahmi dan dedikasi pada masyarakat luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai kepengurusan ini (2004-2006) pengejewantahan dari dua poin diatas di diferensiasi (dibagi) pada struktur kepengurusan yang ada, yakni IAIC wilayah yang bertanggung jawab atas suksesnya pengejewantahan dari poin pertama, yaitu silaturahmi dan IAIC pusat yang bertanggung jawab atas pengejewantahan atas poin yang kedua, yakni dedikasi untuk masyarakat luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat luas sendiri berdasarkan definisi AD/ART dan GBPK yang ada adalah, Agama, Bangsa, dan Insan Cendekia, dimana Insan Cendekia itu sendiri diartikan sebagai Pengembangan Sumber Daya Manusia atau yang lebih dekat yaitu dunia pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Differensiasi IAIC ini hendaknya menjadi perhatian bagi kita semua, bahwa IAIC sudah memulai langkahnya untuk maju kedepan, dan saatnya untuk memajukannya lagi satu langkah kedepan. Semua pihak yang ada diwilayah dan berkontribusi melalui pusat hendaknya saling mengingatkan mana porsi besar yang harus kita lakukan pada setiap kegiatan yang ingin IAIC lakukan, poin silaturahmi atau poin dedikasi, lalu kemudian melihat dari wadah yang kita diami, atas nama wilayah atau atas nama pusat, yang menjadikan fokus kegiatan yang kita lakukan menjadi berbeda pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan yang signifikan kedua yang ada dalam IAIC adalah pemetaan SDM berdasarkan tahun kelulusannya dari Insan Cendekia. Dimana pembagian yang ada menjadikan aktifitas masing-masing anggota IAIC terkonsentrasi pada wilayah atau pusat, pada poin silaturahmi atau dedikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun pertama sampai ke tiga kelulusan menjadikan para alumni mengkonsentrasikan diri ke wilayah, artinya terfokus pada silaturahmi, main-main-dan main, becanda-becanda-dan becanda, rame-ramean, dll. Pada tahun ini observasi dan pematangan nilai-nilai silaturahmi harus digalakkan, kegagalan pematangan nilai silaturahmi oleh wilayah dan para anggota wilayah lainnya menjadikan porsi kegegalan IAIC untuk mendedikasikan dirinya ke masyarakat luas mengalami perlambatan yang tak perlu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun keempat dan seterusnya, menjadikan alumni lebih terkonsentrasi pada dedikasi tanpa batas ke masyarakat luas dan IAIC itu sendiri. Artinya keterbatasan akan mobilitas menjadikan pola pendedikasian ini harus terus diefisienkan dan mampu diakses semua pihak dalam IAIC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan signifikan yang ketiga, penyesuaian struktur organisasi yang berimbas pada meluasnya kinerja pengurus yang menajdikannya memerlukan badan otonom untuk menjalankan fungsinya yang strategis, yakni pembentukan BSO, akan saya tuliskan pada kesempatan berikutnya. BSO yang dibentuk pada kepengurusan ini adalah, Koperasi IAIC, IAIC Learning Center (ILC), dan insyaallah Group Pecinta Alam IAIC yang akan diresmikan pada pendakian peradana pada ke gunung lawa, 8 desember 2006 mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap BSO memiliki fungsi strategis yang akan membantu IAIC mewujudkan dua poin yang saya ungkapkan diatas. Koperasi IAIC yang mewakili Kemandirian, ILC yang mewakili Dedikasi Keilmuan dan Pecinta Alam yang mewakili Loyalitas Tinggi. Ketiga BSO ini kedepannya akan mengambil peranan penting dalam pengembangan IAIC dan anggotanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga perubahan signifikan itu hendaknya menjadi perhatian bagi ita semua, sehingga bola yang sudah bergulir kedepan aharus dimajukan minimal dipertahankan, dan semua orang harus bertahan untuk tidak membuatnya bergulir kebelakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MUBES IAIC selain membawa IAIC selangkah lebih maju, juga sebagai momen membuat anggota IAIC maju dengan penggalian Informasi yang dilakukan para anggota saat MUBES berlangsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah tema yang diusung pada MUBES IAIC ke-IV. One Step Ahead With.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga MUBES kali ini memberikan manfaat yang sesuai dengan apa yang diharapkan dalam perencanaannya. Insyaallah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika semua orang sudah bertekad untuk maju, tak ada yang bisa menghalanginya, kecuali Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yogyakarta, 24 November 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--IAIC Learning Center [ ILC ]&lt;br /&gt;ABDULLAH ARIFIANTO&lt;br /&gt;Site: [&lt;a href="http://www.andoide.com/"&gt;http://www.andoide.com/&lt;/a&gt;]&lt;br /&gt;Blog: [ &lt;a href="http://www.andocurhat.andoide.com/"&gt;http://www.andocurhat.andoide.com/&lt;/a&gt; ]&lt;br /&gt;YM: [ eaton_gai ]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3789100955354128565-5106278814887467376?l=legasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://legasi.blogspot.com/feeds/5106278814887467376/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3789100955354128565&amp;postID=5106278814887467376' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3789100955354128565/posts/default/5106278814887467376'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3789100955354128565/posts/default/5106278814887467376'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://legasi.blogspot.com/2006/12/mubes-iaic.html' title='MUBES IAIC'/><author><name>IAIC Learning Center</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3789100955354128565.post-8338785713969000586</id><published>2006-08-10T10:01:00.000+07:00</published><updated>2006-12-17T13:45:56.967+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Writer: Maisya Farhati'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='- Umum'/><title type='text'>MASIHKAH MEREKA BANGGA MENJADI WARGA AMERIKA SERIKAT?</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;oleh Maisya Farhati*&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;em&gt;Manusia adalah binatang yang bermoral, dan&lt;br /&gt;tidak ada tujuan politik dan ekonomi yang dapat terus bertahan&lt;br /&gt;kecuali dilandasi oleh moral.&lt;br /&gt;(Mark Blaug)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Amerika Serikat (AS) yang disebut-sebut sebagai Negara Adidaya memang benar-benar melambangkan sebuah kemapanan. Namun sayang, kemapanan itu hanya sebatas materi semata. Kemapanan ekonomi dan politik kemudian menjadi sesuatu yang agung di mata mereka yang (lagi-lagi) sayangnya berusaha diraih dengan menghalalkan segala cara.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;AS memang arogan, banyak orang yang sudah menyadarinya. Banyak negara yang kontra Amerika namun di sisi lain negara-negara itu tetap manut pada negeri Paman Sam yang amat berkuasa itu. AS kerap muncul di tengah permasalahan dan urusan rumah tangga negara lain. AS kerap muncul dengan kedok memberi bantuan dan menegakkan keadilan dan perdamaian. AS berpura-pura muncul sebagai pahlawan. Memalukan!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Konflik Israel-Palestina yang kini merembet ke Libanon juga tak lepas dari peran dan dukungan AS. Pertanyaan kasar yang kemudian muncul adalah, Apakah mereka masih punya otak untuk membedakan mana yang benar dan salah?. Nampaknya keserakahan akan kehidupan dunia sudah merusak otak mereka sehingga benar-salah di mata mereka selalu berhubungan dengan untung-rugi yang mereka peroleh. Yang menguntungkan dianggap benar, sedangkan yang merugikan dianggap salah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Sebenarnya, kita perlu merasa kasihan terhadap sikap AS tersebut. Negara Adidaya itu sejak dahulu memang telah disetir oleh kepentingan Bangsa Yahudi yang merupakan bangsanya orang-orang Israel. AS terus mendukung Israel karena mempunyai kepentingan ekonomi yang cukup signifikan. AS membutuhkan Israel yang pengaruhnya sangat kuat pada berbagai sentra-kapital seperti MNC (Multi National Corporation), TNC (Trans National Corporation), juga organisasi multilateral seperti WTO (World Trade Organization), IMF (international Monetary Fund), dan World Bank.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Secara terang-terangan, AS mendukung berbagai serangan biadab yang dilancarkan Israel ke Palestina dan Libanon. Padahal menurut jajak pendapat yang dilakukan di negara-negara Eropa, Israel dianggap sebagai ancaman terbesar bagi perdamaian dunia. Jika jajak pendapat serupa dilakukan di seluruh negara pun, hampir bisa dipastikan tetap menobatkan Israel sebagai pengacau sejati akan perdamaian dunia. Lalu, di mana AS yang dulu menggemakan perdamaian, hak asasi manusia, dan menjadi salah satu penggagas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)? PBB pun sepertinya kini tinggal nama. PBB bukan milik dunia, melainkan milik AS dan segala keangkuhannya. PBB ada di bawah pengaruh AS dengan hak vetonya. Menyedihkan.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Sudah begitu banyak kebencian yang terpatri di kalangan dunia terhadap AS. Namun ternyata, kebencian itu tak hanya datang dari pihak luar, namun juga dari warga negara AS sendiri. Mereka tak hanya benci, tapi juga malu akan sikap negaranya yang sangat arogan dan seakan tak punya hati itu. Mereka benci pada pemerintah AS yang terus mendukung aksi kejam Israel. Mereka benci pada pemerintah AS yang mendukung dan melakukan pembunuhan dengan alasan membasmi terorisme. Makna terorisme itu sendiri patut kembali dipertanyakan. FBI mendefinisikan terorisme sebagai kekuatan yang tidak legal demi mencapai tujuan politik, sementara manusia yang tidak berdosa menjadi sasarannya. Sudahkah AS berpikir jernih, siapakah teroris yang sebenarnya?&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Salah satu warga AS yang sangat gencar menyuarakan ketidaksetujuannya terhadap sikap pemerintah AS adalah Paul Craig Roberts, mantan wakil Menkeu dalam kabinet Ronald Reagan. Berikut salah satu tulisannya, seperti diberitakan oleh harian Republika edisi 7 Agustus 2006: Tahukah Anda, apakah itu musuh-musuh negara Yahudi? Mereka itu adalah warga Palestina, rakyat yang tanahnya dicuri negara Yahudi itu, yang rumah dan tanaman zaitunnya dihancur ratakan negara Yahudi itu, yang anak-anak mereka dibunuh di jalanan oleh serdadu negara Yahudi. Ketika negara Anda begitu melindungi negara Yahudi itu, masihkah Anda menyisakan kebanggaan untuknya?&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Ya, masihkah warga AS bangga akan bangsanya itu? Masihkah mereka bangga akan negaranya yang membiarkan setiap detik bagi rakyat Palestina dan Libanon adalah jerit pilu dan tetesan darah? Masihkah?&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;*Mahasiswa Ilmu Ekonomi UGM&lt;br /&gt;Anggota Redaksi Badan Penerbitan dan Pers Mahasiswa EQUILIBRIUM FE UGM&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;em&gt;-The most important thing is not so much where we are, but in what direction we move- &lt;/em&gt;&lt;a href="http://us.rd.yahoo.com/mail_us/taglines/postman8/*http://us.rd.yahoo.com/evt=39663/*http://voice.yahoo.com"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3789100955354128565-8338785713969000586?l=legasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://legasi.blogspot.com/feeds/8338785713969000586/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3789100955354128565&amp;postID=8338785713969000586' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3789100955354128565/posts/default/8338785713969000586'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3789100955354128565/posts/default/8338785713969000586'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://legasi.blogspot.com/2006/08/masihkah-mereka-bangga-menjadi-warga.html' title='MASIHKAH MEREKA BANGGA MENJADI WARGA AMERIKA SERIKAT?'/><author><name>IAIC Learning Center</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3789100955354128565.post-6684884873562354526</id><published>2006-06-22T22:40:00.000+07:00</published><updated>2006-12-18T06:59:24.535+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='+ Socio Science Studies'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Writer: Abdullah Arifianto'/><title type='text'>Pemisahan Agama</title><content type='html'>&lt;div class="post-body"&gt; &lt;div&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;One grim  Weltanschauung for this new era was well expressed by the Venetian nationalist  demagogue in Michael Oibdin’s novel, Dead Lagoon: “ There can be no true friends  without true enemist. Unless we hate what we are not, we cannot love what we  are. These are the olds truths we are painfully rediscovering after a century  and more of sentimental cant. Those who deny them deny their family, their  heritage, their culture, their birthright, their very selves!&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);"&gt;(dikutip dari The Clash of Civilizations And the  remaking of World Order, Samuel Huntington)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah Agama,  mencatatkan sebuah pertempuran antar agama, tetapi ada satu yang tidak terusik  yakni pertempuran didalam agama itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah yang tersirat  menyebutkan upaya pembebasan intelektual dalam agama menyisakan banyak korban,  dan yang salah satunya adalah pertentangan antar para intelektual dengan gereja  tentang tuhan, yang kemudian menjadi pihak yang tidak beragama dan tidak  beragama, yang kemudian menjadi salah satu pihak yang dikafirkan dengan hukuman  pancung di …..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang padanya sejarah mencatatkan intelektual-intelektual  pengusung renaissance sebagai seorang atheis bahkan kafir. Ketidakpuasan  terhadap gereja pun (monopoli gereja memberikan pengampuan atas pengakuan dosa)  memberikan gelombang besar atas munculnya Kristen protestan. Sejarah yang  sedemikian besar ini menjadi kabur, yang dikarenakan entah salah siapa, tetapi  yang jelas inilah sebuah pelajaran sejarah terhadap penahanan dinamisasi agama  dalam jiwa manusia yang kompleks dan dinamis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak pernah ada pemaksaan  agama dalam agama manapun, yang menjadikan setiap manusia bebas mengekspresikan  keimanannya sendiri tanpa melibatkan atau memaksakan pada orang lain, yang  dilihat dari kacamata orang kedua sebagai bentuk dari penyesatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah  eropa yang sedemikian kelam itu, hingga menutupi semua jalan menuju kemajuan  dengan dalih kekuasaan yang dimonopoli oleh sebagian kecil manusia, dan  perangkat keagamaan (gereja red.) menjadi salah satu alatnya, adalah salah satu  babak sejarah yang tidak memberikan kemajuan apapun, hingga heliosentris menjadi  awal yang mencoba menggugatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penciptaan daerah koloni-koloni baru  bangsa eropa, yang terbesar di amerika menjadi bukti salah satu bentuk pelarian  terhadap kebebasan beragama yang tidak terikat dengan pihak gereja. Dengan kata  lain, dunia baru itu adalah sebuah pengasingan atau ketidakterikatan dengan  gereja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah kelam eropa itulah yang menjadi awal perkembangan  keilmuan yang global ini, pengalaman pahit untuk menyatukan agama dengan  kebebasan berfikir telah menjadikan upaya ini menjadi salah satu opsi yang  berusaha ditinggalkan puluhan generasi, hingga perlahan sejarah itu hanya  menjadi cerita yang menarik untuk ditonton tanpa merasakan petualangan dalam  kisahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Internasionalisasi dalam keilmuan menciptakan sebuah paradoks  kompleks yang tidak terpecahkan. Dan sayangnya sejarah tidak memberikan  pelajaran untuk tidak mengeneralisasi latar belakang keilmuan yang berkembang.  Keilmuan global yang berkembang dewasa ini tidak memberikan tempat bagi agama  dan tuhan kecuali dalam hati manusia itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebebasan berfikir  tidak didasari oleh peraturan-peraturan dasar agama atau keyakinan spiritual,  tetapi lebih pada pelepasan terhadap faktor-faktor imajiner yang berupa  nilai-nilai ketauhidan. Semua teori keilmuan dewasa ini tidak memberikan tempat  bagi agama, kecuali memaksakan agama masuk dalam sebuah perhitungan yang  matematis, absolut, atau dalam keadaan ideal-statis, agar bisa dipegunakan  sebagai faktor real.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinamisasi agama pada akhirnya hanya diemban oleh  ortodonsi terhadap sebuah keyakinan yang sakral, yang sebenarnya juga mengekang  dinamisasi. Agama yang sebenarnya memberikan sebuah ladang besar tentang  memanfaatkan akal fikiran manusia untuk berkembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Poin-poin utama  tentang Human Rigths didapatkan dari ajaran agama, perjuangan penegakan hak  asasi manusia selalu didapatkan dari bias spiritual agama dalam diri seseorang.  Akan tetapi mewujudkan itu dalam tatanan formal, menjadi kendala, hukum-hukum  positif yang berkembang dan menjadi kebijakan landasan hukum adalah hukum yang  menyingkirkan nilai-nilai non-materi yang hanya menyisakan determinasi hakim  untuk memutuskan perkara secara irrasional obyektif, sehingga hakim yang seperti  itu pun terpaksa terkucil dalam dunia formal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penegakan hukum dengan  dalih nilai-nilai moral menjadi porsi yang kesekian dibanding perkara  pidana-perdata tentang pengrusakan hak milik dan melawan hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya  bila konstruksi ini pemikiran ini tidak diperbaiki secara totalitas, bertahap  dan periodik maka determinasi individu dalam satu periode kehidupan tidak akan  mampu bertahan lama untuk periode-periode berikutnya. Dalam tatanan realitas  hukum formal ini yang akan menjadi agama dasar bagi manusia, dan bila ini  terjadi, agama akan hilang, porsi-porsi penegakan hak asasi akan hilang,  barbarisme klasik akan terulang dengan mengatasnamakan hukum yang statis dengan  dalih konsistensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemisahan agama menjadi sebuah tindakan yang tidak  disengaja, yang timbul dari upaya penstatisan agama dalam tataran praktis yang  menutup pintu ijtihad dan memberikan ruang untuk timbulnya pemanfaatan dari  celah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budaya yang terkandung didalamnya paganisme, khusus  diindonesia, yang belum bisa berasimilasi sempurna dengan agama menjadi alasan  membedakan budaya dan agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penguasaan individu terhadap individu  lainnya lahirnya dari adanya celah yang diberikan oleh hukum formal yang statis,  bila upaya formalisasi agama dilakukan, maka dengan tidak sengaja upaya  dinamisasi yang mendasari setiap pergerakan kompleksitas manusia akan  terstatisasi, dan itu artinya mencoba mereduksi dinamisasi agama, yang artinya  pula menghilangkan agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Abdullah  Arifianto&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;IAIC Learning Center&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3789100955354128565-6684884873562354526?l=legasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://legasi.blogspot.com/feeds/6684884873562354526/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3789100955354128565&amp;postID=6684884873562354526' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3789100955354128565/posts/default/6684884873562354526'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3789100955354128565/posts/default/6684884873562354526'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://legasi.blogspot.com/2006/12/pemisahan-agama.html' title='Pemisahan Agama'/><author><name>IAIC Learning Center</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3789100955354128565.post-1951511257930706459</id><published>2006-06-03T21:54:00.000+07:00</published><updated>2006-12-18T07:02:18.302+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Writer: Abdullah Arifianto'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='+ Education Studies'/><title type='text'>Bukan Demokrasi Kita</title><content type='html'>&lt;div class="post-body"&gt; &lt;div&gt; Entah sejak kapan saya tidak percaya dengan  Demokrasi, pembelajaran tentang demokrasi terus menerus menjadi sebuah  pertentangan batin yang belum mendapat titik terangnya, hingga sebuah intuisi  mendatangi saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demokrasi yang berada di sebagian besar belahan dunia  ternyata berbeda dengan Demokrasi yang dianut oleh Indonesia, dan upaya  perubahan stigma Demokrasi ini tidak terlihat dan sangat halus, dengan upaya  memberikan sebuah konsep internasionalisasi, yang justru sedikit demi sedikit  mengeroposi demokrasi yang menjadi nafas Bangsa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedaulatan  Rakyat, yang kini disebut Demokrasi Pancasila, yang menurut saya pribadi  penamaannya sebagai varian dari demokrasi justru memblurkan dan meminta  perbandingan dengan Demokrasi yang ada. Stigma Demokrasi secara umum memberikan  sebuah kolektif bargaining terhadap politik dan di sisi lain memberikan personal  bargaining dalam bidang-bidang lain seperti ekonomi, sedangkan Kedaulatan Rakyat  memberikan sebuah batasan antara kolektif dan personal bargaining dengan  interaksinya, dimana personal bargaining harus mampu menjamin pertumbuhan  kolektif bargaining dan begitu juga sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedaulatan Rakyat,  mengambil posisi diantara demokrasi dan sosialisme, mengambil sebuah posisi  menjamin hak-hak rakyat dalam politik dan dalam pendistribusian  kesejahteraan.&lt;br /&gt;Lalu, sampai disini, dengan makin terbukanya Indonesia dengan  dunia luar, apakah kita sadar bahwa demokrasi bukan atau sama sekali tidak  pernah menjadi budaya kita, antara demokrasi dan sosialisme disanalah kedaulatan  rakyat berada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya-upaya pengajaran baik yang kasar, seperti revolusi  irak dengan penjajahan amerika dengan dalih terorisme, dan upaya pengajaran yang  halus yang dialami oleh Indonesia, harus diwaspadai sedini mungkin. Upaya baik  negara adikuasa ini suatu saat akan menjadi bumerang bagi Indonesia, khususnya  kepada pemahaman rakyatnya, yang mengagungkan internasionalitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi,  ada kabar baiknya, upaya menjamin kedaulatan rakyat dalam politik bisa  dipelajari dari demokrasi, sedangkan upaya menjamin kedaulatan rakyat dalam  kesejahteraan dapat dipelajari dari sosialisme. Dan jika ingin menjamin  keduanya, pelajari demokrasi kita, kedaulatan rakyat. Tantangan untuk pemikir  Indonesia, untuk merealisasikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Abdullah  Arifianto&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3789100955354128565-1951511257930706459?l=legasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://legasi.blogspot.com/feeds/1951511257930706459/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3789100955354128565&amp;postID=1951511257930706459' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3789100955354128565/posts/default/1951511257930706459'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3789100955354128565/posts/default/1951511257930706459'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://legasi.blogspot.com/2006/12/bukan-demokrasi-kita.html' title='Bukan Demokrasi Kita'/><author><name>IAIC Learning Center</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3789100955354128565.post-7022147136845212284</id><published>2006-06-02T12:12:00.000+07:00</published><updated>2006-12-18T06:57:39.884+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Writer: Maisya Farhati'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='- Umum'/><title type='text'>ROKOK, Ugh!!</title><content type='html'>&lt;div class="post-body"&gt; &lt;div&gt;   &lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style="font-size: 100%; font-family: Times New Roman;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt; &lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%; font-family: Times New Roman;"&gt;Suasana di dalam kereta  Senja Utama jurusan Yogyakarta-Jakarta malam itu terasa cukup sesak. Maklum lah,  bukan kereta eksekutif Di setiap pemberhentian di stasiun-stasiun tertentu,  pasti saja kereta diramaikan oleh kehadiran berbagai pedagang yang berjejalan  masuk ke dalam kereta. Suasana yang tidak terlalu nyaman itu juga dilengkapi  oleh asap rokok yang berkeliaran di udara. Ugh!! &lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%; font-family: Times New Roman;"&gt;Itu bukan kali pertama  penulis mengalami hal demikian. Kejadian serupa juga sering ditemui di tempat  umum lainnya seperti bis, pusat perbelanjaan, bahkan di lingkungan kampus.  Banyak orang yang merokok di tempat umum dan, secara sadar ataupun tidak, telah  menjadikan orang lain sebagai perokok pasif yang bahayanya tidak kalah dari  perokok aktif. Mungkin ada sebagian orang yang menganggap hal ini biasa saja,  namun banyak pula yang sangat merasa terganggu karenanya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;Rokok yang  bahan dasarnya berasal dari daun tembakau ini mengandung bahan penyebab kanker  seperti arsen, benzena, kadmium, hidrogen sianida, dan toluen. Bahan  tersebut&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;juga menyebabkan efek negatif  seperti asma, insomnia, batuk kering, penyakit paru-paru,&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;dan impotensi. (&lt;i style=""&gt;Ensiklopedi untuk Umum dan  Pelajar)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%; font-family: Times New Roman;"&gt;Berbicara tentang rokok,  memang sudah sejak lama menjadi masalah yang dilematis.  &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; dua kepentingan yang bersifat  saling antagonis antara kesehatan dan ekonomi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)  memperkirakan konsumsi tembakau menjadi penyebab utama meningkatnya angka  kematian. Sejak tahun 1990 hingga 2000, angka kematian naik sampai dengan 7,9%.  Selain itu, menurut Deputi Menko Kesra Bidang Koordinasi Kesehatan dan  Lingkungan Hidup, HM Sukawati Abubakar, pada abad ke-20, 100 juta penduduk dunia  meninggal dunia karena rokok. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%; font-family: Times New Roman;"&gt;Ketika banyak pihak  berkampanye anti rokok, pada saat yang sama para produsen rokok juga gencar  melakukan promosi akan produk mereka. Lihat saja di televisi, media cetak,  maupun di papan-papan reklame, para produsen rokok berlomba-lomba menampilkan  iklan seatraktif mungkin. Dan patut kita akui bahwa iklan-iklan tersebut memang  cukup menarik dan menyentil pihak-pihak tertentu. Sebut saja A Mild yang  terkenal dengan berbagai iklan versi Tanya Kenapa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%; font-family: Times New Roman;"&gt;Konsumen rokok pun  sepertinya tak peduli dengan imbauan pada setiap iklan produk rokok. Kata-kata  &lt;i style=""&gt;Merokok dapat menyebabkan penyakit  jantung, kanker,&lt;/i&gt;dst&lt;i style=""&gt;&lt;/i&gt;sepertinya  hanya angin lalu bagi mereka. Staf ahli Menteri Kesehatan Bidang Kelembagaan dan  Desentralisasi, Dwijo Susono, menyebutkan bahwa saat ini sekitar 70% penduduk  Indonesia tergolong perokok aktif. Kondisi ini menempatkan  &lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; pada  posisi ke &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;lima&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; negara konsumen  tembakau setelah Cina, Amerika Serikat, Rusia, dan Jepang. (&lt;i style=""&gt;Republika, &lt;/i&gt;1 Juni 2006)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%; font-family: Times New Roman;"&gt;Bagaimanapun, bahaya rokok  tidak akan hilang selama barang tersebut memang masih legal dijual di pasaran  dan dapat diperoleh dengan mudah oleh konsumen. Jika tidak terbentur masalah  ekonomi, dengan mudahnya masalah ini dapat ditanggulangi dengan menilik sampai  ke akar permasalahan, yaitu menutup pabrik rokok. Namun, sudah menjadi wacana  klasik bahwa pabrik rokok memberikan sumbangan yang cukup besar bagi negara dan  membuka lapangan kerja bagi banyak orang. Rata-rata pendapatan negara dari cukai  rokok per tahunnya adalah Rp27 triliun. Dilihat dari angka tersebut, tentunya  bukan perkara mudah bagi pemerintah untuk menutup pabrik-pabrik rokok. Tapi,  sepertinya pemerintah lupa bahwa dana (yang dibutuhkan) untuk menanggulangi  penyakit akibat tembakau mencapai Rp81 triliun per tahun. Jadi, apakah  keberadaan rokok masih menguntungkan?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%; font-family: Times New Roman;"&gt;Tanpa tergantung wacana  klasik antara sisi kesehatan dan ekonomis yang sudah dipaparkan di atas, Anda  bisa menimbang suatu hal dari sisi positif dan negatifnya, atau dalam istilah  ekonomi dikenal sebagai &lt;i style=""&gt;cost benefit  ratio.&lt;/i&gt; Apakah keuntungan/manfaat yang didapat (sebagai individu) dengan  mengkonsumsi rokok itu lebih besar daripada biaya yang mesti dikeluarkan. Karena  jika penulis amati, sebenarnya mereka yag merokok itu tidak mendapatkan &lt;i style=""&gt;value added &lt;/i&gt;yang esensial. Misalnya  hanya untuk menghilangkan kebosanan atau temen nongkrong, seperti yang  diungkapkan oleh rekan penulis, seorang mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri di  Bandung. Apakah mereka rela mengorbankan nyawa merekahanya untuk kesenangan  sesaat? Tetapi ada pula orang yang memangkatanyatidak bisa bekerja tanpa  ditemani rokok. Dalam pandangan subjektif penulis, itu hanyalah alasan yang  dipaksakan. Toh itu adalah kebiasaan yang bisa saja dihilangkan jika orang  tersebut mau berusaha dengan sungguh-sungguh.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%; font-family: Times New Roman;"&gt;Pada akhirnya, keputusan  ada di tangan masing-masing individu. Jika keputusan akhir Anda adalah tetap  memilih mengkonsumsi rokok, itu hak Anda. Namun, harus Anda ingat bahwa orang  lain pun mempunyai hak untuk menghirup udara bersih tanpa asap rokok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Maisya Farhati&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jurusan Ilmu Ekonomi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Fakultas Ekonomi, UGM&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style="font-size: 100%; font-family: Times New Roman;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt; &lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="background: aqua none repeat scroll 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3789100955354128565-7022147136845212284?l=legasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://legasi.blogspot.com/feeds/7022147136845212284/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3789100955354128565&amp;postID=7022147136845212284' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3789100955354128565/posts/default/7022147136845212284'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3789100955354128565/posts/default/7022147136845212284'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://legasi.blogspot.com/2006/06/rokok-ugh.html' title='ROKOK, Ugh!!'/><author><name>IAIC Learning Center</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3789100955354128565.post-8854222298702919881</id><published>2006-05-03T09:03:00.000+07:00</published><updated>2006-12-18T07:07:58.090+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Writer: Abdullah Arifianto'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='+ Education Studies'/><title type='text'>Emansipasi Perempuan Indonesia</title><content type='html'>&lt;em&gt;“..Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang  dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf….” (Al-Baqarah  228)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="post-body"&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;Kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan  anak-anak perempuan, bukan sekali-sekali karena kami menginginkan anak-anak  perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena  kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita  lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam (sunnatullah)  sendiri ke dalam tangannya; menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.  (Surat Kartini Kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober  1902)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Disaat deru zaman terus melaju, dan setiap pergerakan  peradaban selalu bersiklus dalam sebuah lingkaran besar yang serupa.  Kejadian-kejadian yang berulang, bersisa hanya meninggalkan kesan tapi tidak  pernah rasa.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Emansipasi, diperjuangkan mengatasnamakan ketidakadilan  dan perlakuan semena-mena terhadap perempuan. Tapi membagi dan memisahkan  emansipasi dalam sebuah obyek yang berdiri sendiri justru menimbulkan  ketidakadilan yang justru akan semakin mempertajam kesenjangan keadilan yang  diperjuangkan emansipasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembelaan terhadap kaum wanita yang diajukan  secara parsial, dalam artian penanggulangannya sebagai satu obyek yang terpisah,  hanya akan menimbulkan kesenjangan-kesenjangan lain, yang justru akan terus  membenamkan pembelaan terhadap perempuan. Mengapa begitu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidakadilan  selalu berada diantara dua wilayah, perut dan bawah perut. Antara lapar dan  nafsu, yang selalu dipicu oleh dua hal, yakni kebodohan dan kemiskinan. Dua hal  yang saling bersimbiosis dan tidak terpisahkan satu sama lainnya. Kemiskinan dan  kebodohan saling mendukung satu sama lain untuk mendominasi terjadinya  ketidakadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebodohan menyebabkan ketidakadilan dimana adanya  pembodohan, dan manipulasi pragmatis opurtunis pada satu pihak yang kelak akan  menimbulkan ketidakadilan. Kemiskinan menyebabkan ketidakadilan dalam kebebasan  berkehendak untuk membuat sebuah keputusan baik mengenai dirinya yang bersifat  personal ataupun dalam skala publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emansipasi adalah salah satu bentuk  upaya memproporsikan keadilan dengan pemfokusan pada obyek tertentu, yakni  wanita. Akan tetapi selama upaya-upaya ini hanya dan bahkan terlalu terfokus  pada obyek tertentu, maka hal ini yang kelak akan menimbulkan kesenjangan baru  yang kelak akan menciptakan ketidakadilan baru pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emansipasi wanita  adalah langkah positif selama dalam koridor yang seharusnya dan tidak berlebihan  seperti usaha kartini membela kaum perempuan yang kelak menjadi kaum wanita.  Sedangkan upaya-upaya yang berusaha melewati apa yang tidak harus dalam  koridornya hanya akan menimbulkan permasalahan serupa yang tidak akan lebih  besar manfaatnya dari ketidakadilan itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emansipasi perempuan  yang terus digalakkan tanpa menyadari porsi ketidakadilan yang juga bisa  diperbuat individu perempuan tersebut adalah hal-hal yang justru lebih  menjadikan emansipasi kehilangan maknanya, dan hanya menjadi tidak lebih dari  sebuah simbol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emansipasi perempuan Indonesia terbukti belum bisa  mereduksi tingginya angka kelaparan, anak-anak putus sekolah, rendahnya kualitas  SDM, dan lain sebagainya. Dan ini pula yang menyebabkan emansipasi selalu tidak  bisa diperjuangkan parsial seorang diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala bentuk ketidakadilan  harus diproporsikan sejajar dengan ketidakadilan-ketidakadilan yang lain tanpa  memandang subyek ataupun obyeknya. Sehingga semua pihak memiliki andil untuk  menentukan sejauh mana emansipasi ini berjalan tanpa harus keluar dari  koridornya, memposisikan perempuan sebagai cikal bakal pendidik utama SDM  Indonesia, Ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Abdullah  Arifianto&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3789100955354128565-8854222298702919881?l=legasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://legasi.blogspot.com/feeds/8854222298702919881/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3789100955354128565&amp;postID=8854222298702919881' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3789100955354128565/posts/default/8854222298702919881'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3789100955354128565/posts/default/8854222298702919881'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://legasi.blogspot.com/2006/05/emansipasi-perempuan-indonesia.html' title='Emansipasi Perempuan Indonesia'/><author><name>IAIC Learning Center</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3789100955354128565.post-204930777951667620</id><published>2006-04-23T06:05:00.001+07:00</published><updated>2006-12-18T07:06:55.290+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='+ Socio Science Studies'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Writer: Yuti Ariani'/><title type='text'>Perempuan</title><content type='html'>Merdeka Melaksanakan  Dharma. Itulah semboyan pada lambang Hari Ibu, yang mengandung arti dengan  tercapainya persamaan kedudukan, hak dan kewajiban dengan kaum laki-laki sebagai  mitra sejajar, darma bakti laki-laki dan perempuan Indonesia kepada keluarga,  masyarakat, bangsa dan negara dapat diwujudkan sepenuhnya. Hari yang diperingati  tiap tanggal 22 Desember berdasarkan Kongres III Perempoean tahun 1938 tersebut  telah menjadi hari nasional, namun selain menjadi bagian dari rutinitas tahunan,  hal apa yang bisa kita peroleh?&lt;br /&gt;&lt;div class="post-body"&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Jawabannya bisa berbeda-beda. Meski  demikian, jika ditilik dari fenomena sosial, dampak hari Ibu terlihat dari  meningkatnya tulisan-tulisan, iklan layanan masyarakat hingga iklan komersil  yang mengangkat perempuan. Sudut yang digunakan beragam, mulai dari kampanye  kesetaraan gender, meningkatkan kesadaran masyarakat akan ancaman trafficking,  serta iklan yang menggunakan momen hari Ibu untuk mempromosikan  produknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan senantiasa menjadi perbincangan hangat. Mulai dari  masalah mode, gosip, masak hingga yang menyangkut wilayah publik. Wacana  mengenai kehidupan perempuan yang ideal memang tak pernah surut. Hal ini terkait  langsung dengan posisi perempuan sebelum tahun 1990-an yang mayoritas berkutat  pada masalah domestik dan jabatan-jabatan sekunder dalam dunia  kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Megatrends 2000, Naisbitt menyebutkan bahwa perempuan telah  mencapai massa kritis di hampir semua profesi pekerja kantor, khususnya di dalam  perusahaan. Namun pada tahun 1990, tempat kerja adalah dunia yang sangat  berbeda. Sejak tahun 1972 hingga 1990, presentase perempuan yang menjadi dokter  naik dua kali lipat. Perempuan menguasai sekitar 39,3 persen dari 14,2 juta  pekerjaan eksekutif, administratif dan manajemen, menurut Biro Statistik Tenaga  Kerja(Amerika Serikat-penulis), meningkat hampir dua kali lipat angka tahun  1972.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergeseran posisi perempuan dari domestik ke sektor publik  berimplikasi langsung pada wacana mengenai pembelaan hak-hak perempuan. Di  Indonesia, pengaruh gerakan pembela perempuan misalnya, telah membuahkan UU-Anti  KDRT yang mengatur mengenai kekerasan dalam rumah tangga. Perjuangan perempuan  memperoleh hak-haknya juga telah menciptakan sebuah persaudaran tersendiri  diantara perempuan dari berbagai kalangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana Islam memandang  perempuan? Jika ditilik dari sejarah, Islam merupakan salah satu titik balik  kedudukan perempuan. Pada masa jahiliyah, pra-Islam, perempuan hanya dijadikan  sebagai komoditas yang dapat diperjualbelikan dan diberikan sebagai hadiah.  Selain itu posisinya dianggap sangat rendah sehingga ketika ada yang melahirkan  bayi perempuan, bayi yang baru saja merasakan kehidupan dunia tersebut langsung  dikubur hidup-hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara pandang perempuan sebagai masyarakat kelas dua,  tidak hanya terjadi di wilayah Arab pra-Islam, melainkan telah berjalan selama  ratusan tahun. Dalam Undang-undang Manu misalnya, disebutkan bahwa perempuan  sepanjang hidupnya tidak pernah memiliki hak-haknya sendiri dalam melakukan  segala tindakan yang diinginkannya sehingga dalam urusan domestik pun mereka  tidak diberi kesempatan. Baru ketika Islam datang, perempuan diangkat derajatnya  dan diberi penjagaan khusus agar mampu melindungi keistimewaan yang ada pada  dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan yang sering muncul mengenai posisi perempuan Islam  adalah ketika posisi tersebut dikaitkan hak dan kewajiban dengan kaum laki-laki.  Namun mungkinkah segala perbedaan mulai dari fisik hingga mental dapat disamakan  begitu saja? Dalam buku Emansipasi, Adakah dalam Islam, perbedaan kewajiban  perempuan dan laki-laki disebabkan oleh jenis manusia yang memiliki tabi’at dan  sifat kemanusiaan yang berbeda satu dengan yang lainnya. Sehingga penanganannya  pun harus dikhususkan untuk setiap jenis, tidak bisa sekadar generalisasi  sebagai manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adanya perbedaan dalam hak dan kewajiban antara  perempuan dan laki-laki seperti busana tertutup bagi perempuan, hak waris pria  yang lebih besar, posisi perempuan dalam persaksian, kepatuhan seorang perempuan  pada suaminya dll nyatanya tidak menghambat perempuan untuk beraktivitas. Hal  ini terlihat dari peranan Khadijah dalam dunia perekonomian, Aisyah berperan  besar dalam periwayatan hadits, Fathimah yang dengan kesabaran dan sikap  zuhudnya memberi peneladanan terhadap bagaimana bersikap kepada orang yang tidak  mampu, meski dirinya sendiri berada dalam kondisi kekurangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekhususan  yang ada pada diri perempuan ini sayangnya seringkali tergadaikan oleh kurangnya  pemahaman antara hak dan perlindungan. Perempuan yang sejatinya indah bagai  perhiasan, seringkali terperangkap dalam komoditas barang hiburan. Ketika posisi  perempuan hanya ditempatkan sebagai sebuah materi yang bisa dipandang secara  bebas, maka materi itu harganya akan jatuh sebagaimana yang diungkapkan oleh  aktris terkenal dari Rio De Jenairo, Floranda Balkan kepada majalah Rabithah  ‘Alam Islami(Februari 1977, h.58), “Masyarakat saat ini selalu menuntut mode dan  hidup dengan mode tersebut. Aku tak sudi menuruti mode. Aku ingin menjadi  wanita, bukan sebagai benda… Sesungguhnya aktivitas-aktivitas yang  mengjengkelkan saat ini adalah apa yang menamakan diri sebagai “gerakan  kebebasan wanita.” Padahal gerakan-gerakan semacam itu tak akan berhasil  mengubah suatu kenyataan. Laki-laki selamanya tetap laki-laki; dan wanita  selamanya tetap wanita…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara mengenai kondisi perempuan sekarang  memang masih jauh dari ideal. Affirmative action(kebijakan untuk memberikan  keringanan atau jatah bagi golongan-golongan yang termarjinalkan, seperti  perempuan, petani, buruh, nelayan dll) menjadi sebuah kontradiksi tersendiri.  Bukankah pemberian jatah tersebut merupakan suatu bukti bahwa perempuan(dan  golongan termarjinalkan lainnya) memang tidak mampu bersaing secara adil dengan  laki-laki? Jika dilihat secara langsung, maka jawabannya adalah ya. Namun jika  kita mau melihatnya sebagai sebuah bagian dari perjalanan sejarah, maka kondisi  perempuan untuk berkiprah di dunia politik(salah satu penerapan affirmative  action ini adalah dengan pemberian kuota 30% di dewan legislatif bagi perempuan  pada pemilu silam), pendidikan, pekerjaan dan dalam kehidupan masyarakat lainnya  memerlukan usaha lebih. Hal ini disebabkan oleh masih adanya anggapan ditengah  masyarakat yang berpendapat bahwa perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi,  tidak perlu bekerja di luar rumah dll. Anggapan-anggapan inilah yang menghambat  kemajuan perempuan dan untuk merubahnya diperlukan sebuah penyikapan  khusus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kita mempertanyakan(bahkan menuntut) kesetaraan perempuan  dan laki-laki dalam Islam, kita harus mendefinisikan kembali kesetaraan seperti  apa yang dimaksud. Karena sejarah umat muslim sendiri dihiasi kisah-kisah  kehebatan perempuan yang berkiprah di wilayah publik. Apakah kesetaraan untuk  berkiprah di sektor publik, hak untuk memperoleh perlindungan terhadap  kekerasaan, atau kesetaraan-kesetaraan yang malah merendahkan harkat dan  martabat perempuan itu sendiri? (yuti)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Yuti Ariani&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3789100955354128565-204930777951667620?l=legasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://legasi.blogspot.com/feeds/204930777951667620/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3789100955354128565&amp;postID=204930777951667620' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3789100955354128565/posts/default/204930777951667620'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3789100955354128565/posts/default/204930777951667620'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://legasi.blogspot.com/2006/04/perempuan_22.html' title='Perempuan'/><author><name>IAIC Learning Center</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3789100955354128565.post-3312506779895344474</id><published>2006-04-14T01:12:00.000+07:00</published><updated>2006-12-18T07:11:34.326+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Writer: Maisya Farhati'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='- IAIC'/><title type='text'>Insan Cendekia</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;Insan-insan yang datang dari tempat yg saling  berjauhan&lt;br /&gt;&lt;div class="post-body"&gt;&lt;div&gt;Dengan latar warna yang tak serupa&lt;br /&gt;Membawa sejuta cerita  berbeda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masing-masing punya rasa sendiri&lt;br /&gt;Mengapa mereka terdampar di  sini&lt;br /&gt;Bahagia, sesal, kecewa&lt;br /&gt;Adalah hal biasa dalam menerima sebuah  awal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terjatuh dan berjalan tertatih&lt;br /&gt;Pernah menjadi bagian dari  lembaran kisah&lt;br /&gt;Semangat, doa, dan saling menguatkan&lt;br /&gt;Adalah penawar bagi  rasa lelah yg bertahta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak hal yang menyadarkan&lt;br /&gt;Bahwa kebersamaan  adalah perhiasan jiwa&lt;br /&gt;Bahwa persahabatan menjadi pengikat cinta&lt;br /&gt;Seperti  bintang-bintang yang setia menjaga langit kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa yang terus  terlewati&lt;br /&gt;Mimpi-mimpi yang lahir dari setiap kita&lt;br /&gt;Jangan biarkan mengendap  dan terlupa&lt;br /&gt;Masa depan adalah cita yang kan digapai bersama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga  pada waktu penghabisan&lt;br /&gt;Kita dapat memaknai semua realita&lt;br /&gt;Kita dapat  memahami jalan yg tlah Tuhan pilihkan&lt;br /&gt;Kita dapat mensyukuri suatu anugerah  yang indah&lt;br /&gt;Tuk menjadi insan-insan  cendekia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yogyakarta,,,&lt;br /&gt;malam ke 14 Ramadhan 1426 H&lt;br /&gt;17 Oktober  2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Maisya  Farhati&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;ketika rindu hadir di jiwa&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;*Tuk segenap Insan Cendekia. Di manapun  berada!!!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3789100955354128565-3312506779895344474?l=legasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://legasi.blogspot.com/feeds/3312506779895344474/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3789100955354128565&amp;postID=3312506779895344474' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3789100955354128565/posts/default/3312506779895344474'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3789100955354128565/posts/default/3312506779895344474'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://legasi.blogspot.com/2006/04/insan-cendekia.html' title='Insan Cendekia'/><author><name>IAIC Learning Center</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3789100955354128565.post-8576661390830583644</id><published>2006-04-14T00:50:00.000+07:00</published><updated>2006-12-18T07:25:11.600+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Writer: Maisya Farhati'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='+ Economic Studies'/><title type='text'>Kontroversi UU Ketenagakerjaan</title><content type='html'>Akhir-akhir ini,  demonstrasi para buruh banyak mewarnai jalan-jalan di perkotaan maupun  gedung-gedung perwakilan rakyat di berbagai daerah di Indonesia. Aksi mereka itu  tak lain merupakan sebuah respon atas rancangan revisi Undang-Undang  Ketenagakerjaan (UUK) yang dinilai merugikan pihak buruh.&lt;br /&gt;&lt;div class="post-body"&gt;&lt;div&gt;Seperti  kebijakan-kebijakan nonpopuler yang sebelumnya pernah dikeluarkan, tentu kali  ini pun pemerintah memiliki argumen sendiri untuk menguatkan rencana tersebut.  Pemerintah menyebut-nyebut perbaikan iklim investasilah sebagai alasan utamanya.  Dengan direvisinya undang-undang tersebut, diharapkan investor lebih tertarik  lagi menanamkan modalnya di Indonesia. Dan jika investasi meningkat, lapangan  kerja baru akan bertambah sehingga pengangguran dapat berkurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rendahnya Produktivitas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke persoalan  semula, pemerintah berencana merevisi Undang-Undang Ketenagakerjaan ini  tujuannya untuk mewujudkan tiga hal: menciptakan iklim hubungan industrial yang  mendukung perluasan lapangan kerja, menyederhanakan penyelesaian berbagai  perselisihan hubungan industrial, dan mempercepat proses penerbitan perizinan  ketenagakerjaan.&lt;br /&gt;Belakangan ini, pemerintah memang sedang gencar-gencarnya  membuka kesempatan besar bagi para investor untuk menanamkan modalnya di  Indonesia. Hal ini dilakukan seiring menurunnya tingkat investasi karena para  investor menilai kondisi Indonesia kurang ramah untuk berinvestasi. Sebut saja  Nike dan Sony, dua perusahaan besar yang telah menutup perusahaannya di  Indonesia. Apakah gerangan yang menjadi penyebabnya?&lt;br /&gt;Kebanyakan investor  mempermasalahkan rendahnya kinerja para pekerja di Indonesia. Produktivitas  mereka bisa dibilang kurang memuaskan dibandingkan para pekerja di negara Asia  lain seperti Vietnam dan Cina. Selain itu, para investor juga menganggap selama  ini para pekerja Indonesia terlalu banyak menuntut namun tidak memberikan  kontribusi yang cukup seimbang bagi perusahaan.&lt;br /&gt;Karena redupnya minat  investasi itulah pemerintah berusaha menggiatkan kembali sektor riil di  Indonesia dan memperluas kesempatan kerja, salah satunya dengan merevisi UUK  tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tidak Pro  Pekerja&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kalau ditengok lebih lanjut, revisi UU nomor 13/2003 ini  secara langsung menyangkut kepentingan tiga pihak, yakni pengusaha, para  pekerja, dan para pencari kerja. Di sinilah terdapat benturan kepentingan satu  sama lain. Dilihat dari sisi pengusaha, revisi UUK akan mengurangi beban mereka  sehingga volume investasi dapat meningkat. Bagi para pencari kerja, hal ini akan  membuka kesempatan baru bagi mereka untuk dapat bekerja.&lt;br /&gt;Namun yang kini  menjadi persoalan adalah nasib para pekerja. Mereka merasa dirugikan karena  banyak hak mereka yang akan berkurang, bahkan dihilangkan. Pasal-pasal dalam  revisi UUK tersebut dirasa lebih berpihak pada pengusaha. Hal yang paling  mencolok dalam revisi itu antara lain mengenai upah, pesangon, sistem kontrak,  dan perlindungan kesejahteraan, keselamatan, dan kesehatan.&lt;br /&gt;Pekerja tetap  akan mendapat pesangon, uang pensiun juga tetap dibayarkan. Jadi sebenarnya  tidak ada hak pekerja yang dihilangkan, ujar ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia  (Apindo), Sofjan Wanandi. Sebuah pembelaan muncul ketika ia mengatakan bahwa hak  pekerja tidak dihilangkan. Memang benar bahwa tidak seluruhnya hak-hak itu  dihilangkan, namun pada kenyataannya adalah hak pekerja sangat banyak  direduksi.&lt;br /&gt;Kita ambil contoh pasal 35 ayat 3 yang berisi, Perlindungan yang  mencakup kesejahteraan, keselamatan, dan kesehatan baik mental maupun fisik  tenaga kerja, rencananya akan dihapuskan. Sungguh mengecewakan apabila  pemerintah mengorbankan kesejahteraan rakyatnya sendiri dengan mengatasnamakan  peningkatan investasi.&lt;br /&gt;Selain itu, masalah yang cukup meresahkan buruh adalah  tentang sistem kontrak. Dengan sistem ini, apabila kontak kerja seorang pekerja  adalah lima tahun dan setelah jangka waktu tersebut tidak ada perpanjangan, maka  pekerja tersebut berhenti bekerja di perusahaan yang bersangkutan tanpa  memperoleh pesangon. Tentu saja bagi para pekerja hal ini memunculkan suatu  kekhawatiran baru.&lt;br /&gt;Menurut Revrisond Baswir (ekonom dan dosen FE UGM) dalam  sebuah seminar di Pusat Studi Ekonomi Pancasila UGM, revisi UUK pada dasarnya  memang meminta pengorbanan para pekerja, walaupun hal itu dilatarbelakangi oleh  niat untuk memperluas lapangan kerja. Namun hal itu tidak berarti tidak ada  pertanyaan yang tersisa, ujarnya. Pertanyaan itu adalah: apakah memang revisi  UUK ini merupakan satu-satunya jalan untuk mencerahkan kembali iklim investasi  di Indonesia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menguntungkan Pengusaha dan  Tidak merugikan Pekerja&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hasil survei World Economic Forum (WEF)  menyebutkan bahwa peraturan ketenagakerjaan ternyata hanya menempati urutan ke  tujuh sebagai kendala investasi di Indonesia. Enam alasan lainnya adalah  inefisiensi birokrasi, infrastruktur yang tidak memadai, peraturan perpajakan,  korupsi, kualitas sumber daya manusia, dan instabilitas kebijakan.&lt;br /&gt;Maka  pertanyaan yang selanjutya muncul adalah sudah sejauh mana pemerintah  mengusahakan perbaikan bagi enam kendala investasi di atas?&lt;br /&gt;Kita ambil contoh  korupsi. Sudah seberapa banyak negara kita dirugikan karena suatu hal bernama  korupsi, pastinya sudah tak terhitung. Begitu banyak. Dan pemerintah seharusnya  semakin gencar memerangi hal yang krusial ini. Jika pemerintah konsen pada satu  hal ini saja, pengaruhnya akan sangat berarti.&lt;br /&gt;Kepala Pusat Studi Pedesaan  dan Kawasan UGM, Susetiawan, menyatakan, Ditekannya pembiayaan harga buruh  kemungkinan besar adalah ketidakmampuan negara untuk mengatasi berbagai macam  bentuk KKN yang mengakibatkan biaya produksi tinggi.&lt;br /&gt;Ada baiknya pemerintah  membenahi faktor-faktor yang menjadi kendala investasi yang lebih utama daripada  masalah peraturan ketenagakerjaan. Karena seharusnya substansi yang tidak boleh  hilang dari peraturan tersebut salah satunya adalah perlindungan bagi tenaga  kerja itu sendiri. Jangan sampai ketidakmampuan pemerintah memberantas korupsi  ataupun memperbaiki struktur birokrasi misalnya, menyebabkan ekonomi biaya  tinggi dan pada akhirnya mengharuskan masyarakat ikut memikul  konsekuensinya.&lt;br /&gt;Juga merupakan sesuatu yang bijak apabila para pekerja  senantiasa meningkatkan produktivitas kerja dan menyeimbangkannya dengan  tuntutan yang diajukan kepada perusahaan. Dan sebisa mungkin jika ada suatu  tuntutan terhadap perusahaan, mereka melakukan negosiasi terlebih dahulu. Mereka  perlu memikirkan waktu yang telah mereka habiskan untuk berdemo menyebabkan  produktivitas perusahaan menurun, dan pada akhirnya jika dilihat secara makro,  memperlambat pertumbuhan ekonomi negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Maisya Farhati&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mahasiswa Fakultas Ekonomi UGM&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jurusan Ilmu Ekonomi&lt;/span&gt;&lt;a href="http://us.rd.yahoo.com/mail_us/taglines/postman8/*http://us.rd.yahoo.com/evt=39663/*http://voice.yahoo.com"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3789100955354128565-8576661390830583644?l=legasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://legasi.blogspot.com/feeds/8576661390830583644/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3789100955354128565&amp;postID=8576661390830583644' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3789100955354128565/posts/default/8576661390830583644'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3789100955354128565/posts/default/8576661390830583644'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://legasi.blogspot.com/2006/04/kontroversi-uu-ketenagakerjaan.html' title='Kontroversi UU Ketenagakerjaan'/><author><name>IAIC Learning Center</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3789100955354128565.post-1664318159620012724</id><published>2006-04-07T11:22:00.000+07:00</published><updated>2006-12-18T07:38:40.347+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Writer: Maisya Farhati'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='- Umum'/><title type='text'>Jangan Pergi Papua</title><content type='html'>&lt;div class="post-body"&gt; &lt;div&gt; Ketimpangan bukanlah sebuah hal baru yang kerap  mampir di telinga kita, bangsa Indonesia. Sudah lama hal ini menjadi masalah  yang hingga kini belum juga usai. Kesenjangan mewarnai banyak bidang kehidupan  sosial dan ekonomi di masyarakat. Masalah ini tentunya tak bisa dipisahkan  dengan keadilan. Ketika seseorang atau suatu kelompok merasa tidak mendapatkan  keadilan, akankah mereka terus berdiam diri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah kemelut bangsa  yang kini melanda, masalah Papua adalah salah satu hal yang perlu mendapat  perhatian. Daerah timur Indonesia ini seakan tak pernah lepas dari problematika.  Dari mulai kasus gizi buruk, Freeport, sampai beberapa penduduknya yang mencari  suaka ke negeri tetangga, Australia. Dalam situasi yang jauh dari sesuatu  bernama kesejahteraan dan keadilan, tak heran bila gerakan separatis pun muncul  ke permukaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak tahun 1971 PT Freeport masuk Papua dan membuka  tambang Erstberg. Sejak tahun 1971 itulah warga aslinya, suku Amugme,  dipindahkan dari wilayah mereka ke wilayah kaki pegunungan. Tahun 1972, Freeport  melakukan ekspor perdana konsentrat tembaga. Karena saat itu USA sedang gencar  berperang dengan Vietnam, harga tembaga melangit dan penambangan tembaga  digenjot besar-besaran. Alhasil, Freeport menanggung keuntungan yang sangat  besar dan menjadi perusahaan raksasa nan kaya raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan perusahaan  tambang tersebut membawa dampak yang sangat signifikan bagi pendapatan Papua.  Produk Domestik Bruto (PDB) Papua memang nomor tiga seluruh Indonesia, tetapi  tingkat kesejahteraan Papua ada di posisi ke-29 dari seluruh propinsi yang kini  ada. Hal ini menunjukkan belum meratanya pendapatan di masyarakat. PDB Papua  sebagian besar disumbang dari pendapatan Freeport yang sangat tinggi (tahun 2004  profit nettonya sebesar US$ 934 million atau 9,34 triliun rupiah). Namun kita  jangan bangga dulu karena pendapatan tersebut bukan seutuhnya menjadi milik  negeri kita, bahkan lebih banyak yang lari ke pihak asing (capital outflow).  Karena 81,2% saham pertambangan tersebut adalah milik Freeport McMoran.  Pemerintah kita melalui PT Freeport Indonesia hanya memiliki 9,4% saham saja,  sementara 9,4% sisanya dimiliki oleh Indocopper Investama yang ternyata 100%  sahamnya dikuasai oleh PT Freeport McMoran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan Wakil Presiden  Jusuf Kalla bahwa kondisi ekonomi dan kesejahteraan di Freeport dan daerah  sekitarnya sudah baik (Tempo, 26/02/06) pada kenyataannya tidaklah terbukti.  Sebelumnya Kalla juga mengatakan Freeport telah memberikan manfaat bukan saja  untuk Timika, tapi juga seluruh Papua lewat pajak, bagi hasil, dan program  pengembangan komunitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Timika sebagai kota utama Freeport memang cukup  baik karena menjadi kota utama kegiatan Freeport di mana karyawannya banyak  beraktivitas. Namun, daerah lainnya yang termasuk wilayah kontrak karya seperti  Yahukimo masih rendah kesejahteraannya. Bahkan beberapa waktu lalu sempat  mencuat kasus gizi buruk di daerah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain masalah  kesejahteraan, masyarakat Papua juga mau tidak mau harus menerima kenyataan  bahwa kini lingkungannya telah tercemar. Kementerian Lingkungan Hidup telah  erkali-kali memperingatkan Freeport sejak tahun 1997 karena melanggar peraturan  perundang-undangan tentang lingkungan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut perhitungan Freeport  sendiri, penambangan mereka dapat menghasilkan limbah sebesar kira-kira 6 miliar  ton (lebih dari dua kali bahan-bahan bumi yang digali untuk membuat Terusan  Panama). Kebanyakan dari limbah itu dibuang di pegunungan di sekitar lokasi  pertambangan, atau ke sungai-sungai yang mengalir turun ke dataran rendah basah,  yang dekat dengan Taman Nasional Lorentz, sebuah hutan hujan tropis yang telah  diberikan status khusus oleh PBB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, yang perlu dipertanyakan adalah  apakah dari sekian banyak kekayaan alam yang dikuras dari bumi Papua itu para  penduduknya tidak mendapatkan apa-apa? Apakah mereka hanya disisakan kemiskinan  dan penderitaan? Bentuk-bentuk tanggung jawab sosial perusahaan (corporate  social responsibility) yang dipublikasikan dalam website perusahaan Freeport (&lt;a href="http://www.ptfi.com/"&gt;http://www.ptfi.com&lt;/a&gt;) juga patut diberi tanda  tanya besar karena warga Papua belum merasakan peningkatan kesejahteraan yang  berarti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gonjang-ganjing di Papua kini juga diwarnai dengan perginya 42  warga Papua ke Australia untuk mencari suaka. Selain protes terhadap pemerintah  Australia karena telah memberikan visa sementara, pemerintah Indonesia juga  seharusnya menjadikan kasus ini sebagai peringatan akan terancamnya integritas  bangsa. Jangan sampai ketidakadilan yang dirasakan oleh sebagian warga negara  membuat nasionalisme mereka luruh dan akhirnya pudar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah saatnya  pemerintah memprioritaskan pemerataan sosial dan ekonomi di Indonesia. Apakah  pemisahan diri Timor Timur harus juga terjadi pada  Papua???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Maisya Farhati &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Mahasiswa Fakultas  Ekonomi UGM Jurusan Ilmu Ekonomi&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3789100955354128565-1664318159620012724?l=legasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://legasi.blogspot.com/feeds/1664318159620012724/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3789100955354128565&amp;postID=1664318159620012724' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3789100955354128565/posts/default/1664318159620012724'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3789100955354128565/posts/default/1664318159620012724'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://legasi.blogspot.com/2006/12/jangan-pergi-papua.html' title='Jangan Pergi Papua'/><author><name>IAIC Learning Center</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3789100955354128565.post-2834406110985394259</id><published>2006-04-06T06:40:00.000+07:00</published><updated>2006-12-18T07:42:58.346+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Writer: Denny Juzaili'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='+ Education Studies'/><title type='text'>BHP, Kapitalisasi Perguruan Tinggi</title><content type='html'>&lt;div class="post-body"&gt; &lt;div&gt; Sudah tidak tahu lagi apa yang berlaku di negara  ini. Perilaku main hakim sendiri yang dulu hanya dilakukan oleh orang-orang  bawah, saat ini hal tersebut nampaknya sudah menular ke kalangan atas  pemerintahan. Jika rakyat bawah bermain hakim sendiri berarti mendului  aparat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka kalangan atas bermain hakim sendiri dengan menelikung  undang-undang yang berlaku, di dalam membuat kebijakan. Kalau orang bawah main  hakim sendiri menyebabkan orang lain orang lain sekarat atau bahkan kematian  orang lain. Orang atas main hakim sendiri juga membawa dampak orang-orang lain  menjadi sekarat atau bahkan juga mati, perlahan-lahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah menjadi  rahasia publik bahwa kondisi kependidikan Indonesia khususnya sektor pendidikan  tinggi sedang menuju kepada perubahan yang—katanya hal biasa—radikal, yaitu  otonomi kampus melalui wadah Badan Hukum Pendidikan (BHP). Mengapa radikal?  Karena perubahan ini dapat merontokkan sendi-sendi dari pendidikan itu sendiri.  Perubahan ini juga akan menyebabkan tereliminasinya banyak kontestan lulusan SMA  yang sama-sama berpotensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam melihat konsekuensi dari pemberlakuan  BHP kepada institusi-institusi perguruan tinggi, selalu terdapat dua sudut  pandang. Pertama sudut yang meluluskan kebijakan tersebut dan yang kedua sudut  pandang yang mengkritisi. Kedua belah pihak ini bertemu pada fakta bahwa otonomi  pendidikan tinggi akan mengurangi porsi pemerintah dalam penyediaan dana  operasional perguruan tinggi, yang pada gilirannya mau tidak mau, suka tidak  suka, perguruan tinggi mesti lebih kreatif dalam hal pendanaan, dan salah satu  imbasnya adalah biaya yang ditanggung pelajar akan bertambah  tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja hal tersebut (naiknya biaya) tidak boleh terjadi.  Bagaimana mungkin orang-orang pembuat kebijakan menambahkan lagi satu jenis  seleksi penerimaan calon mahasiswa: Seleksi Keuangan. Bagaimana mungkin  pemerintah merumuskan kebijakan yang akan melabrak UU No. 20 tahun pasal 11 (1)  yang bunyinya: "Pemerintah dan pemerintah daerah wajib memberikan layanan dan  KEMUDAHAN, serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap  warga negara tanpa DISKRIMINASI" (!!!). Ya, seleksi keuangan adalah bentuk  diskriminasi. Atau bila kita merujuk pada pasal lima: "setiap warga negara  mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu" Mungkin tidak  salah jika kita menyebut pemerintah setengah hati dalam memberikan hak  tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang kita tidak dapat menyangkal kapitalisme sudah sangat  mendarah daging, suka atau tidak, disadari atau tidak, kapitalisme telah merasuk  ke dalam urat nadi kehidupan manusia. (Tajuk Rencana Sinar Harapan), termasuk  sektor pendidikan yang juga dirasuki mazhab yang cuma berpihak kepada  orang-orang kaya tersebut. Lalu bila pendidikan hanya berpihak kepada  orang-orang kaya, hendak dikemanakan nilai, semangat dan ruh  pendidikan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapitalisasi pendidikan sebagaimana tersirat dalam UU RI  tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) dengan jelas mengandung  pembodohan terutama peserta didik, bahkan tidak mencerminkan  nilai-nilai/semangat pembukaan UUD 1945: Mencerdaskan kehidupan bangsa. Forum  Cipayung Yogyakarta dengan berapi-api menyatakan UU Sisdiknas tidak berniat  memperbaiki kualitas kehidupan bangsa, tidak mampu membendung arus kapitalisme  pendidikan, semakin menguatkan politisasi negara terhadap pendidikan, dan  menghapus nilai, semangat, dan ruh pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, memang begitulah fakta  yang hadir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, meskipun pemerintah mengacu kepada Deklarasi Lima  tentang Kebebasan Pendidikan &amp; Otonomi Pendidikan Tinggi yang menjabarkan  bermacam-macam nilai postif otonomi pendidikan—atau kapitalisasi pendidikan,  tetap kita tidak dapat menerima pemberlakuan otonomi pendidikan (atau  Pembentukan BHP, atau pelegalan Kapitalisasi pendidikan) tersebut. Lebih-lebih  porsi dana APBN yang dianggarkan bagi sektor pendidikan cuma 12%, itu pun masih  dipasung untuk dibagi-bagikan ke Departemen negara yang lain (tidak semuanya  untuk Depdiknas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya otonomi Pendidikan diberlakukan di negara  yang sudah maju, mungkin hal tersebut tidak membawa dampak negatif. Tapi tidak  dengan negara Bumiputera ini, jangan lupa dong, Ini Indonesia Bung!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Denny Juzaili&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3789100955354128565-2834406110985394259?l=legasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://legasi.blogspot.com/feeds/2834406110985394259/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3789100955354128565&amp;postID=2834406110985394259' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3789100955354128565/posts/default/2834406110985394259'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3789100955354128565/posts/default/2834406110985394259'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://legasi.blogspot.com/2006/12/bhp-kapitalisasi-perguruan-tinggi.html' title='BHP, Kapitalisasi Perguruan Tinggi'/><author><name>IAIC Learning Center</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3789100955354128565.post-5682369284188708738</id><published>2006-03-17T07:41:00.000+07:00</published><updated>2006-12-18T07:41:54.606+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Writer: Maisya Farhati'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='+ Economic Studies'/><title type='text'>CEPU on my mind:Indonesiaku sayang, Indonesiaku malang...</title><content type='html'>&lt;div class="post-body"&gt; &lt;div&gt; Sebuah istilah “bagaikan ngekos di rumah  sendiri”, memang pantas dijadikan analogi bagi keadaan negara kita sekarang.  Kasus yang sedang hangat (bahkan panas), yaitu Blok Cepu, adalah salah satu  contohnya. Atas nama nasionalisme dan manfaat ekonomi bagi seluruh rakyat,  kandungan migas di nusantara sudah seharusnya dikuasai dan diatur negara bagi  sebesar-besar kemakmuran rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, bagaimana bisa ExxonMobil turut  campur dalam hal pengelolaan Blok Cepu??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Blok Cepu pada awalnya  diusahakan oleh PT Humpuss Patra Gas (HPG) melalui technical assistance contract  (TAC) dengan Pertamina. Dengan alasan tidak mempunyai dana yang cukup untuk  membiayai eksploitasi cadangan minyak di blok itu, HPG pada 1997 melepas 49  persen sahamnya kepada Ampolex, perusahaan minyak yang sebagian besar sahamnya  dikuasai ExxonMobil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Kepala Badan Pengelolaan dan Pengawasan  Kontraktor Asing (BPPKA) PT Pertamina, Zuhdi Pane (Kompas, 28/2/2006), pelibatan  investor asing dalam TAC sebenarnya tidak diperbolehkan secara  perundang-undangan. Namun hal tersebut ternyata dapat diloloskan setelah pihak  Ampolex pada saat itu melakukan “pendekatan” dengan Soeharto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam  perkembangan selanjutnya, ExxonMobil mengambil alih 100 persen saham HPG di Cepu  melalui Ampolex. Kontrak ExxonMobil di Blok Cepu semestinya selesai pada tahun  2010 dan menurut undang-undang tidak boleh diperpanjang. Namun pada kenyataannya  pihak ExxonMobil ngotot ingin memperpanjang, bahkan berebut hak sebagai operator  dengan Pertamina. Dan sayangnya, kini Exxonlah yang memperoleh hak  tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun hak operator tersebut “hanya” berlaku selama lima  tahun, dikhawatirkan ExxonMobil semena-mena dalam mengelola Blok Cepu. Bisa saja  ia menguras habis minyak kita selama lima tahun tersebut, dan ketika hak  operator telah dipegang Pertamina, yang tersisa hanyalah air (mungkin ini  terlalu hiperbolis, tapi bisa saja terjadi kan?).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus ini mengingatkan  saya akan pengelolaan minyak di Ekuador yang juga dipegang oleh perusahaan  minyak asing. John Perkins dalam bukunya “Confessions of an Economic Hit Man”  memaparkan hal tersebut. Untuk minyak mentah senilai $100 yang diambil dari  hutan hujan Ekuador, perusahaan minyak menerima $75. Dari $25 sisanya, tiga  perempatnya harus dipakai untuk membayar utang luar negeri (yang juga merupakan  suatu bentuk penjajahan AS dan konco-konconya). Sebagian besar dari yang tersisa  dipakai untuk menutup biaya militer dan biaya pemerintahan lainnya, dan  menyisakan kira-kira $2,5 untuk kesehatan, pendidikan, dan program bantuan bagi  orang miskin. Ironis sekali bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, dalam kasus Blok Cepu  pembagian hasil minyak sudah ditentukan. Persentase yang sudah disepakati saat  ini adalah 85 persen pemerintah, Pertamina dan ExxonMobil masing-,asing  memperoleh 6,75 persen, dan pemerintah daerah (Jatim dan Jateng) sebesar 1,5  persen. Tapi, bukannya tidak mungkin pihak ExxonMobil melakukan mark-up dan KKN.  Selain itu, sebagai pengelola, peluang untuk melakukan intervensi dan  pengambilan keputusan yang hanya menguntungkan pihak ExxonMobil sendiri selalu  ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, begitu menyedihkan. Blok Cepu yang memiliki cadangan prospektif  lebih dari sepuluh milyar barel dan merupakan cadangan terbesar yang pernah  ditemukan di Indonesia kini telah jatuh ke tangan asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapankah kita  dapat menjadi bangsa yang mandiri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Maisya  Farhati&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa Ilmu Ekonomi  UGM&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;bluezone_24@yahoo.com&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3789100955354128565-5682369284188708738?l=legasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://legasi.blogspot.com/feeds/5682369284188708738/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3789100955354128565&amp;postID=5682369284188708738' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3789100955354128565/posts/default/5682369284188708738'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3789100955354128565/posts/default/5682369284188708738'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://legasi.blogspot.com/2006/03/cepu-on-my-mindindonesiaku-sayang.html' title='CEPU on my mind:Indonesiaku sayang, Indonesiaku malang...'/><author><name>IAIC Learning Center</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3789100955354128565.post-1130719108164440676</id><published>2006-03-16T07:43:00.000+07:00</published><updated>2006-12-18T07:44:32.313+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='- IAIC'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='- Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Writer: Abdullah Arifianto'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;h3 class="post-title"&gt;Harga Sebuah Idealisme &lt;/h3&gt; &lt;div class="post-body"&gt; &lt;div&gt;  &lt;div align="left"&gt;&lt;em&gt;Medio, 15 Maret 2006&lt;br /&gt;Dalam sebuah ruang dimana kebebasan  bisa didapat tanpa perjuangan&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;Wajarkah bila sang aku  memilih untuk berdiam diri dan termenung?&lt;br /&gt;Wajarkah aku memilih terkurung  disaat aku tahu ada mereka yang dikurung?&lt;br /&gt;Wajarkah aku menyalahkan mereka,  disaat dengannya sekejap?&lt;br /&gt;Atau wajarkah aku memilih tidak merasa bersalah,  ketika aku tahu aku salah?&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt; &lt;div align="left"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;Demi tuhan yang tahu apa  niatku&lt;br /&gt;Tak ada kefakiran yang aku tidak merasa lemah terhadapnya, kecuali  waktu&lt;br /&gt;Dan hanya berniat, bila tiba waktuku&lt;br /&gt;Ku mau tak akan seorang pun  menghadangku, walau itu aku.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Ketika idealisme dipertanyakan dalam tatanan praktis,  dimana sepantasnya kita menampilkannya?&lt;/div&gt; &lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Sebagai gambaran, adakah seorang konseptor yang bertindak  sebagai praktisi? Jawabnya ada. Dan pertanyaan tentang hal diatas, akan  sangat-sangat jelas ketika dijawab oleh mereka.&lt;/div&gt; &lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Alkisah dalam sebuah negeri antah berantah, saya menyebut  negera itu bernama indoensia. Sebuah negara dongeng yang semuanya berlaku  selayaknya disurga.&lt;/div&gt; &lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Indoensia, dalam kisah saya ini diibaratkan sebuah kampung  kecil terpinggir yang berada didalam pedalaman hutan yang tidak tersentuh oleh  siapapun, hingga ada orang-orang bernafsu yang munafik mencoba mengatakan bahwa  kampung itu menyimpan emas. Memang entah iya entah tidak, walaupun dongeng  sebelum tidur dalam kampung itu selalu bercerita tentang raksasa kecil yang  berhajat sebuah emas batangan.&lt;/div&gt; &lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Dan konon orang-orang bernafsu tersebut meminta sebuah  pertolongan dengan pembagian 1:3, satu untuknya dan tiga untuk mereka sang orang  luar atas emas yang bila nanti ditemukan dalam kampung tersebut. Tetapi  orang-orang bernafsu tersebut meminta sebuah syarat tambahan, yakni penguasaan  terhadap kampung tersebut. Dan ini pun menjadi syarat konyol menurut orang luar  tersebut yang tidak seharusnya diajukan oleh orang-orang yang beranggapan  kewarasan pun ada batasnya.&lt;/div&gt; &lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Setelah beberapa tahun setelah itu, emas batangan pun  ditemukan. Dan dibagi berdasarkan apa yang sudah disepakati. Dengan tambahan  syarat tersebut, penguasaan terhadap yang lain. Ketika waktu terus berjalan,  tahun pun berubah menjadi sewindu dan dasawarsa. Orarng-orang bernafsu tersebut  bingung, penguasaan satu terhadap yang lain hanya bisa dipertahankan dengan  memenuhi kebutuhan mereka, sedangkan hasil emas kemarin telah dibagikan, ketika  ada sebuah opsi yakni menggunakan emas miliknya, maka sang pengecut itu berkata  dalam hati, kenapa kebutuhan mereka harus ia pikirkan. Lalu ia memutuskan untuk  tidak jadi berkuasa terhadap yang lain. &lt;/div&gt; &lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Cerita sederhana, tapi telah terlihat bahwa orang pintar  akan selalu tampak bodoh tanpa idealisme. Tapi kenapa setiap generasi dalam  negara dongeng yang saya sebut indoensia itu, selalu ada orang-orang pintar yang  bodoh. &lt;/div&gt; &lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Entahlah, ketika idealisme mulai dipertanyakan dan dijual  dengan harga tinggi, itulah harga terendah dari sebuah idealisme. Karena  idealisme adalah harta orang-orang miskin untuk merasa kaya, adalah ilmu  orang-orang bodoh untuk merasa cerdas, adalah kepuasan orang-orang lapar untuk  merasa kenyang, adalah keteguhan orang-orang berkeyakinan untuk merasa kokoh,  dan pretise seorang pemuda untuk merasa berharga bahkan lebih.&lt;/div&gt; &lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;st. jabok&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;Ketika tahu keterbatasan diri selalu menjadi kendala  mengusung sebuah idealisme, sehingga membutuhkan kawan. Tidak selalu sevisi  ataupun cerdas, tapi bisa dipercaya, karena kepercayaan menjadi pokok  terdistribusinya visi.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3789100955354128565-1130719108164440676?l=legasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://legasi.blogspot.com/feeds/1130719108164440676/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3789100955354128565&amp;postID=1130719108164440676' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3789100955354128565/posts/default/1130719108164440676'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3789100955354128565/posts/default/1130719108164440676'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://legasi.blogspot.com/2006/03/harga-sebuah-idealisme-medio-15-maret.html' title=''/><author><name>IAIC Learning Center</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3789100955354128565.post-4663507071281574080</id><published>2006-03-09T07:44:00.000+07:00</published><updated>2006-12-18T07:45:29.417+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='- Umum'/><title type='text'>Kebebasan menurut Tan Malaka</title><content type='html'>&lt;div class="post-body"&gt; &lt;div&gt; &lt;em&gt;Barang siapa sungguh menghendaki Kemerdekaan  buat umum, segenap waktu ia harus siap sedia dan ikhlas buat menderita  "Kehilangan Kemerdekaan diri sendiri".&lt;/em&gt; Tan Malaka&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3789100955354128565-4663507071281574080?l=legasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://legasi.blogspot.com/feeds/4663507071281574080/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3789100955354128565&amp;postID=4663507071281574080' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3789100955354128565/posts/default/4663507071281574080'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3789100955354128565/posts/default/4663507071281574080'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://legasi.blogspot.com/2006/03/kebebasan-menurut-tan-malaka.html' title='Kebebasan menurut Tan Malaka'/><author><name>IAIC Learning Center</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3789100955354128565.post-6272473149816286135</id><published>2006-01-29T07:53:00.000+07:00</published><updated>2006-12-18T07:54:57.651+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Writer: Denny Juzaili'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='+ Nature Studies'/><title type='text'>SPB (Sistem Penanganan Bencana) INDONESIA</title><content type='html'>&lt;div class="post-body"&gt; &lt;div&gt; Air mata ibu pertiwi mungkin sudah kering melihat  berbagai bencana yang diterima anak kandungnya entah itu karena ketidaksabaran  alam atau karena kesalahan hasil karsa manusia-manusia yang dilahirkan anak  kandungnya. Belum dua minggu presiden Susilo menghadiri peringatan setahun  bencana nasional tsunami Aceh, kecamatan Banjarmangu, kabupaten Banjarnegara,  Jember mendapat bencana Banjir Bandang yang membuat beberapa penduduk menjadi  tuna wisma dikarenakan rumah-rumah mereka hancur termakan gelombang air  bercampur lumpur longsoran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dibandingkan dengan air bah yang  menyerang Nanggroe Aceh Darussalam kurun waktu lampau, banjir Jember ini bisa  dikatakan “nggak ada apa-apanya”. Namun untuk konteks penderitaan, yang  dirasakan para korban banjir Jember dan Tsunami Aceh, hal tersebut sama-sama  menghasilkan penderitaan yang berat. Perbedaannya adalah tsunami Aceh tidak  diprediksikan sebelumnya, berbeda dengan banjir Jember 4 Januari 2006 lalu yang  sudah nyaring disuarakan dan diperingatkan oleh berbagai lembaga pemerintahan  dan nonpemerintahan terutama yang paling gencar adalah Wahana Lingkungan Hidup  (Walhi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut WALHI, mereka sudah lama menyampaikan kepada Pemerintah  Daerah Jember bahwa daerah Jember memiliki potensi untuk mengalami banjir.  Jember termasuk dari 23 titik rawan banjir di daerah Jawa Timur yang dikeluarkan  tahun 2003. Pemda tidak menanggapi. Padahal banyak sekali kasus banjir bandang  yang terjadi sejak tahun 2000 dan bencana tersebut semuanya diperingatkan dan  diprediksi sebelumnya. Seakan pemda takabur dan menutup mata terhadap data-data  yang ada. Mirip orang yang jatuh dua kali pada lubang yang  sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;BAKORNAS&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1999 pemerintah telah  membuat Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana dan Pengungsian  (Bakornas PBP) yang khusus bertanggung jawab dalam menangani berbagai bencana  mencakup kegiatan pencegahan, penjinakan/mitigasi, penyelamatan, rehabilitasi,  dan konstruksi (Keppres No.3 tahun 2001 pasal 2 ayat 1). Pembentukan Bakornas  memiliki maksud agar penanganan dan penanggulangan bencana dapat berjalan dengan  cepat, tepat, terpadu, dan terkoordinasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun cita-cita penanganan dan  penanggulangan yang terkoordinasi, cepat, tepat, dan terpadu tidak terealisasi  karena kurangnya kekuatan wewenang yang dimiliki Bakornas. Badan ini lebih  berfungsi sebagai sekretariat penanganan bencana tanpa fungsi pelaksana (Septo  Pradityo, 2005). Bakornas hanya berwenang mengkoordinasikan dan mendelegasikan  tugas kepada departemen-departemen yang terkait, dan departemen tersebutlah yang  melakasanakan penanganan pencegahan secara langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa peran Bakornas  selanjutnya? Tidak ada lagi, setidaknya untuk hal-hal yang bersifat aksi  konkret. Para departemen yang diberikan wewenang pun belum dapat bekerja dengan  leluasa karena kebijakan yang mereka buat harus menunggu persetujuan presiden.  Kewenangan departemen untuk penanganan bencana belum secara komprehensif diatur  dalam Undang-Undang. Hal inilah yang membuat penanganan bencana di Indonesia  berjalan lamban. Jalur birokrasi terlalu panjang dan ribet, bahkan untuk masalah  yang berstatus darurat dan membutuhkan respon  cepat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;RESOLUSI&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu dibutuhkan suatu  perombakan menyeluruh pada sistem penanganan bencana yang ada saat ini.  Indonesia memiliki banyak situs rawan bencana di dalam peta geologi. Apa  pemerintah berencana membahayakan rakyat dengan kelambanan dan buruknya  manajemen penanganan bencana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah perlu membuat suatu lembaga yang  khusus menangani bencana alam bukan sekedar sebuah sekretariat bencana namun  juga memiliki wewenang lebih. Menurut Ginanjar Kartasasmita, sepanjang belum ada  lembaga yang menangani secara khusus, penanganan bencana di Indonesia  kemungkinan bakal terus berjalan lambat. Pemerintah bisa mencontoh Amerika  Serikat yang langsung memberlakukan undang-undang &lt;em&gt;Federation Emergency  Management (FEMA)&lt;/em&gt; di saat terjadi bencana. Dengan undang-undang tersebut  semua produk undang-undang lain tunduk di bawahnya. Undang-undang itu juga  menunjuk institusi mana yang berwenang menangani bencana (Tempo Interaktif 17  Januari 2005).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RUU darurat bencana sudah lama dibahas di DPR dan hingga  saat ini belum terlihat akan tuntas, setidaknya hingga akhir tahun 2005. Saya  pikir pemerintah harus memprioritaskan penyelesaian RUU darurat bencana ini  karena seperti biasa, awal-awal tahun adalah saat-saat dimana Indonesia  mendapatkan curah hujan yang sangat tinggi. Dengan keadaan alam yang sudah  semakin rusak ditambah kurangnya kesiapan infrastruktur penunjang bisa jadi  bencana banjir yang datang ini akan lebih dahsyat daripada banjir tahun-tahun  kemarin. Keseriusan pemerintah dalam menjawab permasalah bencana ini akan  menjamin kenyamanan masyarakat dalam menghadapi musim penghujan tahun ini .  Apabila pemerintah tidak mampu belajar dari bencana-bencana yang lalu mungkin  masyarakat kembali akan berbondong-bondong tinggal di tenda-tenda pengungsian  selama musim hujan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Denny Juzaili (Mahasiswa tahun Pertama Farmasi,  UI)&lt;br /&gt;&lt;a href="mailto:d_juzaili@fastmail.fm"&gt;d_juzaili@fastmail.fm&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3789100955354128565-6272473149816286135?l=legasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://legasi.blogspot.com/feeds/6272473149816286135/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3789100955354128565&amp;postID=6272473149816286135' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3789100955354128565/posts/default/6272473149816286135'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3789100955354128565/posts/default/6272473149816286135'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://legasi.blogspot.com/2006/01/spb-sistem-penanganan-bencana-indonesia.html' title='SPB (Sistem Penanganan Bencana) INDONESIA'/><author><name>IAIC Learning Center</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3789100955354128565.post-3706674915559776920</id><published>2006-01-29T07:50:00.000+07:00</published><updated>2006-12-18T07:51:15.538+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='+ Socio Science Studies'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Writer: Adlil Umarat'/><title type='text'>Menggugah Kesalehan Sosial Para Pemimpin Kita</title><content type='html'>&lt;div class="post-body"&gt; &lt;div&gt; Hari raya Idul Adha adalah salah satu hari raya  besar bagi ummat Islam di dunia. Saat ini berjuta-juta muslim dan muslimah  sedang mengadakan ibadah haji di Mekkah sebagai salah satu implementasi dari  rukun Islam. Dari segi waktu, hari raya Idul Adha 1626 Hijriyah kali ini  mempunyai arti mendalam bagi kita muslim di Indonesia. Perayaan hari raya Idul  Adha tahun ini berada di tengah-tengah banyaknya bencana menimpa negara ini.  Mulai dari peristiwa peledakan bom yang tidak kunjung usai, kenaikan harga BBM,  serangan penyakit flu burung, kasus KKN di lembaga negara, hingga terakhir kasus  formalin, serta bencana banjir dan longsor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini berusaha membahas  tentang tindakan ‘pemotongan gaji’ oleh Morales, presiden Bolivia yang baru saja  memenangkan pemilihan langsung di negaranya (Republika, 20/12/2005), dihubungkan  dengan konsep pengorbanan pada momen Idul Adha, dan perbandingannya dengan  keadaan di Indonesia saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Refleksi Spiritual Idul  Adha&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara etimologis, Idul-Adha terdiri dari dua kata itu  berasal dari bahasa Arab. Kata pertama Idul berasal dari kata  &lt;em&gt;"'aada-ya'uudu-awdatan wa 'iidan"&lt;/em&gt; yang berarti kembali. Sedangkan Adha  adalah kata kerja yaitu &lt;em&gt;"Adha-Yudhii-Udhiyatan"&lt;/em&gt; yang berarti berkorban.  Dengan demikian, arti Idul Adha secara sederhana adalah sebuah tekad untuk  kembali kepada semangat pengorbanan. Semangat pengorbanan ini tentunya bisa  mengacu pada cerita Nabi Ibrahim dan Ismail, yang sama-sama ikhlas dalam  menerima perintah Allah untuk menyembelih Nabi Ismail &lt;em&gt;(Ash-Shaffat:  102-105)&lt;/em&gt;. Kisah yang penuh dengan sikap ketulusan dan mengajarkan kepada  kita bahwa segala apa yang kita miliki di dunia ini adalah titipan Allah semata  yang sewaktu-waktu bisa diambil oleh Yang Maha Kuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hikmah  Berkurban&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada hal penting dalam kegiatan Kurban ini. Betapa kita  diperintahkan untuk selalu memperhatikan fakir miskin, dan semangat berkurban.  Apabila sifat suka berkorban ini meresap ke jiwa seluruh ummat Islam Insya-Allah  akan terwujud ketenangan dan kedamaian dalam masyarakat dan akan dekatlah jurang  yang memisahkan antara yang kaya dengan yang miskin, antara yang kuat dengan  yang lemah, antara penguasa dengan rakyat biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun dalam Islam,  ibadah kurban bukanlah sekedar mengalirkan darah hewan kurban dan  membagi-bagikannya kepada fakir miskin, tetapi juga memiliki nilai dan makna  rohaniah yang sangat dalam dan dampak sosial yang sangat besar. Sebagaimana  &lt;em&gt;platform&lt;/em&gt; Allah dalam surat Al-Haj ayat 37: &lt;em&gt;Bukan daging dan  darahnya yang sampai kepada Allah, melainkan ketakwaanmu yang dapat  mencapainya&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Permasalahan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya,  salah satu sumber masalah para pemimpin di negara kita adalah tidak adanya sikap  ‘pengorbanan’ yang mencerminkan semangat berkurban di saat hari raya Idul Adha.  Saya ingin menjelaskan permasalahan kerelaan ‘berkorban’ yang masih kurang di  kalangan para pejabat pemerintahan, baik eksekutif maupun legislatif. Tentu saja  ini sangat jauh berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Morales melalui  pengorbanannya memotong gaji untuk diserahkan kepada fakir  miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Morales dan Pemotongan Gaji&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebulan  terakhir ini, peta perpolitikan dunia sedikit agak memanas dengan terpilihnya  presiden baru Bolivia, Morales. Sosok yang beraliran ‘kiri’ ini sangat  kontroversial karena dengan lantang berani mengungkapkan ketidaksukaannya kepada  Amerika Serikat, negara adikuasa saat ini. sebuah tindakan yang tergolong  ‘nekat’ mengingat hampir semua pimpinan dunia tidak berani bertindak demikian,  termasuk pemimpin kita. Amerika Serikat pun mulai gusar dan bertambah gerah  seiring dibentuknya koalisi &lt;em&gt;trio&lt;/em&gt;, Castro (Cuba), Morales (Bolivia), dan  Chavez (Venezuela).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai pemimpin yang baru terpilih, Morales  merelakan setengah dari gajinya untuk ‘disedekahkan’ pada sektor pendidikan dan  kesehatan agar lebih banyak pegawai bisa dipekerjakan (&lt;em&gt;Kompas&lt;/em&gt;,  29/12/2005). Sebuah tindakan terpuji dari seorang pemimpin masa kini yang jarang  kita temui. Tindakan ini tentunya secara tidak langsung akan menyentil para  pemimpin kita di Indonesia saat ini. Di saat krisis yang sedemikian parah, di  saat rakyat menderita kelaparan, di saat semua harga barang naik, para pemimpin  kita dengan terbuka dan sedikit semalu-malu serta pura-pura tidak tahu,  menaikkan gaji mereka sendiri dan menambah anggaran-anggaran yang tidak perlu.  Baik, presiden, wakil presiden, dan bahkan anggota dewan DPR pun seolah  berlomba-lomba melakukan penaikan gaji mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dilakukan oleh  Morales adalah bentuk kongkret dari sebuah tindakan yang dilandasi kesederhanaan  dan kedermawanan seorang pemimpin. Kita tentu ingat dengan kesederhanaan dan  kedermawanan yang diperlihatkan oleh salah satu pemimpin terkenal Islam, yaitu  Umar bin Abdul Aziz. Sifat kerelaan dan kesahajaan ini tentunya sesuai dengan  nilai-nilai pengorbanan seperti cerita Nabi Ismail dan Ibrahim. Orientasi  Morales bukan pada pemenuhan materil lagi. Unsur kepuasan batin adalah hal yang  utama. Baginya, menyenangkan hati rakyat adalah merupakan sebuah proses  pemenuhan kebutuhan tertinggi. Menurut terminologi Abraham Maslow, tindakan  Morales ini sudah sampai pada pencapaian tingkat aktualisasi diri (suatu  tindakan berlandaskan moral yang saat ini mulai menghilang dari pejabat negara  kita). Saat ini banyak anggota DPR misalnya yang bersikap oportunis. Oportunis  dalam hal pengerukan keuntungan dari segi materil, baik secara legal maupun  illegal terhadap harta kekayaan dan fasilitas negara. Para pejabat kita yang  disinyalir masih korup itu berada di level pemenuhan kebutuhan primer, masalah  perut, yaitu kebutuhan yang paling mendasar. Padahal seharusnya mereka berada di  level ‘aktualisasi diri’ dalam hal status sosialnya (&lt;em&gt;social status&lt;/em&gt;)  menjadi pengayom dan pelayan masyarakat. &lt;em&gt;What a  shame!&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Contoh Keteladanan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ada  beberapa nama yang menjadi &lt;em&gt;icon&lt;/em&gt; dalam gerakan penghematan atau menolak  kemewahan atau juga menggalakkan sifat &lt;em&gt;zuhud&lt;/em&gt; dan sederhana. Beberapa  waktu lalu kita sempat mendengar ada sekelompok anggota DPR yang menolak  pemberian mobil dinas yang mewah. Ada juga yang menolak menginap di hotel  berbintang. Tapi jumlah mereka tidak signifikan. Sangat sedikit dan bisa  dihitung dengan jari. Sehingga tidak mampu menggerakkan massa DPR yang jumlahnya  ratusan orang. Bahkan cibiran dan hinaan kerap menghampiri mereka yang menolak  fasilitas-fasilitas mewah dari negara. Sikap mental pemimpin yang lebih senang  kepada kemewahan ini menjadi bumerang tersendiri bagi kita sebagai rakyat.  Dengan meningkatnya anggaran negara terhadap pos-pos yang sebenarnya tidak perlu  dibiayai-seperti jalan-jalan wisata ke Mesir beberpa waktu lalu-ikut memicu  peningkatan jumlah RAPBN kita dan berimplikasi pada keterbukaan peluang untuk  berutang kepada IMF, CGI dan Bank Dunia  lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penutup&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika memang Morales yang  &lt;em&gt;notaben&lt;/em&gt;e adalah pemimpin negara yang bukan berpenduduk muslim dan  berada di salah satu daftar negara termiskin di dunia, bisa melakukan pemotongan  gaji dan mampu menunjukkan kepada rakyatnya untuk bertindak dengan berlandaskan  moral dan hati nurani, maka kenapa para pemimpin kita tidak bisa melakukan hal  serupa? Padahal negara kita dikuasai oleh pemimpin muslim dan terkenal sebagai  negara berpenduduk muslim terbesar dunia, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita jadikan hal  ini sebagai renungan spiritual. Belum terlambat bagi para pejabat negara ini  untuk mengambil tindakan ‘pemotongan gaji’ sebagai resolusi tambahan di tahun  2006 ini. Bersamaan dengan momentum hari raya Idhul Adha ini, hendaknya kita  (pemerintah bersama rakyat) bisa melakukan refleksi spiritual bersama dalam  mengkampanyekan gerakan kesalehan sosial diantara kita. Semoga dengan adanya  kesukarelaan ‘pemotongan gaji’ oleh pejabat tinggi, akan meningkatkan kembali  kepercayaan rakyat terhadap pemerintah yang sedang mengalami penurunan pasca  kenaikan harga BBM tahun 2004 lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adlil Umarat (Mahasiswa Sosiologi  FSIP, UI)&lt;br /&gt;&lt;a href="mailto:cuad_nv@yahoo.com"&gt;cuad_nv@yahoo.com&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3789100955354128565-3706674915559776920?l=legasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://legasi.blogspot.com/feeds/3706674915559776920/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3789100955354128565&amp;postID=3706674915559776920' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3789100955354128565/posts/default/3706674915559776920'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3789100955354128565/posts/default/3706674915559776920'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://legasi.blogspot.com/2006/01/menggugah-kesalehan-sosial-para.html' title='Menggugah Kesalehan Sosial Para Pemimpin Kita'/><author><name>IAIC Learning Center</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3789100955354128565.post-5176787919468210961</id><published>2006-01-26T08:55:00.000+07:00</published><updated>2006-12-18T08:57:19.336+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='+ Education Studies'/><title type='text'>Pendidikan dan Pengembangan Pola Pikir</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Aspek Dasar Pendidikan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari manusia dilahirkan hingga  nafas terakhirnya diudara kehidupan, ada satu aktifitas yang tidak pernah  berhenti dilakukannya, yakni pembelajaran. Pembelajaran dalam kaitannya dengan  bahasan ini adalah sebuah aspek dasar dari sistem pendidikan yang sampai saat  ini terus berkembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembelajaran adalah sebuah proses dimana manusia  melihat sekitarnya, melihat kedalam dirinya, medapatkan pemahaman atasnya dan  menjadi dasar setiap aktifitas yang berikut akan  dikerjakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang  berkelanjutan, pembelajaran yang selalu bersiklus, yakni pembelajaran yang  selalu dimulai dari setiap akhir pemahaman yang diperolehnya. Sehingga pemahaman  yang didapatkan oleh setiap individu akan berbeda satu sama lainnya. Dan hal ini  adalah wajar karena ilmu (yang sedikit Allah berikan kepada masing-masing kita)  sungguh melimpah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Jalan Pintas  Pembelajaran&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Membaca pemahaman seseorang berikut konklusi dan  analisisnya adalah salah satu cara mendapatkan pemahaman melalui jalan pintas.  Proses yang pemilahan terhadap suatu fenomena akan menjadi lebih mudah dengan  melihat bagaimana seseorang menyelesaikan masalah, bagaimana seseorang memiliki  sebuah kerangka pemecahan masalah yang dinamis, bagaimana seseorang memandang  sebuah permasalahan dan menyimpulkan faedah yang didapatkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca  pemahaman seseorang dapat dilakukan dengan berbagai cara, dimulai dari melihat  tindakan, membaca biografi, membaca buku, hingga pada tahapan interaksi frontal  dengan individu tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin banyak sang individu melakukan jalan  pintas dalam Pembelajaran semakin banyak pula pola pikir yang menumpuk dalam  pikirannya, sehingga terkadang bila ia tidak berusaha mensinergikan dengan pola  pikirnya sendiri, membuatnya lebih beralur, menjadi pemahaman yang berkelanjutan  atau hanya memahami tanpa berusaha menyesuaikan dengan kondisi realita yang  sedang dihadapinya. Hal ini yang menyebabkan &lt;em&gt;“linglung”&lt;/em&gt;, proses yang  sama dialami oleh &lt;em&gt;Freud&lt;/em&gt; (Bapak Psikologi) ketika mencoba menganalisis  dirinya dengan berbagai kepribadian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pembelajaran dan  Pendidikan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan adalah suatu upaya sistematis dalam  mendistribusikan ilmu pengetahuan. Bila pembelajaran adalah suatu upaya untuk  memperoleh ilmu pengetahuan, maka pendidikan adalah suatu alur untuk menciptakan  pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga pendidikan selalu mempunyai tujuan dan arahan.  Sering kali kita melihat bahawa arahan pendidikan sering kali mengenai sesuatu  yang abstrak seperti kualitas, kompeten, dan lain sebagainya. Dalam realita  patut kita mensederhanakan konsep teoritis tersebut atau memberi penjelasan  lanjutan seperti, berkualitas dalam kelimuan tertentu, berkualitas dalam aspek  tertentu, sehingga hal tersebut bisa lebih mudah diaplikasikan untuk menopang  pembangunan masyarakat, yang agraris, yang &lt;em&gt;hi-tec&lt;/em&gt;, atau yang lain  sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pengembangan Pola Pikir&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya  pengembangan pola pikir adalah hasil reaktif dari adanya pembelajaran yang  berkelanjutan, sistem pendidikan yang terarah dan pemahaman sang individu yang  mendalam akan nilai-nilai yang essensial dalam kehidupan, yang menyangkut  nilai-nilai humanity yang universal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengembangan pola pikir adalah  nsuatu hal yang mahal yang dapat disuguhkan oleh pembelajaran berkelanjutan dan  pendidikan yang terarah. Pengembangan pola pikir bukanlah suatu hal yang bisa  dituntut dari seorang individu, karena hal tersebut berasal dari hasil reaktif  terhadap kegiatan pembelajaran berkelanjutan dan pendidikan yang terarah. Yang  berarti bagaimana pembelajaran berkelanjutan dan pendidikan yang terarah dapat  disinkronkan dalam aspek-aspek tertentu, sehingga tidak keseluruhan sistem  pendidikan dimonopoli untuk kebutuhan sang pendididik, atau negara yang  mensistematisasi pendidikan, ambillah sebagian kecil dari pendidikan untuk  kepentingan masyarakat, negara dan bangsa dan berikan sebagian besarnya untuk  menopang pembelajaran berkelanjutan sang individu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kritik  Pendidikan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dari hasil yang diuraikan diatas, pembelajaran  berkelanjutan sang individu sering kali dicekal oleh sistematisasi pendidikan,  padahal pendidik, negara tidak mampu menampung individu-individu yang sengaja  diarahkan. Hal yang terjadi ini bukan saja merengut kebebebasan sang individu,  tapi menyuguhkan kebohongan atas masa depan sang individu, dia yang mengarahkan  untuk kepentingan tertentu maka dia harus bertanggung jawab atas arahannya  itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem pendidikan Indonesia yang kini berarah kepada sistem yang  berpihak pada siswa aktif, &lt;em&gt;student aktif learning&lt;/em&gt;, tidak akan bisa  memenuhi nilai pembelajaran berkelanjutan selama tidak memberikan nlai penuh  sang pembelajar sebagai subyek yang berhak menentukan apa yang ingin  dipelajarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aspek dasar dari pendidikan adalah pembelajaran, yang  intinya membentuk kepribadian-kepribadian yang memahami secara mendalam akan  nilai-nilai dalam kehidupan, karena pendidikan dan pembelajaran adalah suatu  upaya menambah nilai dari suatu kegiatan. Inilah yang sedikit terlupakan dari  pendidikan modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Abdullah Arifianto (Mahasiswa Teknik Mesin, UGM)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3789100955354128565-5176787919468210961?l=legasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://legasi.blogspot.com/feeds/5176787919468210961/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3789100955354128565&amp;postID=5176787919468210961' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3789100955354128565/posts/default/5176787919468210961'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3789100955354128565/posts/default/5176787919468210961'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://legasi.blogspot.com/2006/01/pendidikan-dan-pengembangan-pola-pikir.html' title='Pendidikan dan Pengembangan Pola Pikir'/><author><name>IAIC Learning Center</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3789100955354128565.post-3803461235999213213</id><published>2006-01-20T09:03:00.000+07:00</published><updated>2006-12-18T09:04:32.671+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='+ Socio Medicine Studies'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Writer: Farid Abdul Hadi'/><title type='text'>Apa yang Dokter Lakukan di Ruang Prakteknya? (bagian satu dari dua tulisan)</title><content type='html'>&lt;div class="post-body"&gt; &lt;div&gt; Banyak yang bukan berlatar belakang medis mungkin  bertanya, mengapa kita mesti membayar jasa dokter begitu mahal untuk sebuah  pelayanan yang hanya beberapa menit saja. Biaya ini belum termasuk harga obat  yang mesti ditebus di apotek serta biaya ini-itu yang jumlahnya juga tidak  sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan di atas sering terlontar di kalangan awam dan tak  jarang menjadi alasan utama mengapa seseorang –terutama dari kalangan sosial  menengah dan menengah ke bawah- memilih untuk tidak berobat ke dokter jika  dirinya sedang sakit. Pertanyaan ini pulalah yang membuat larisnya  pengobatan-pengobatan alternatif, dukun modern, serta tabib-tabib yang keliling  kampung. Jika ditinjau dari segi kesehatan makro dan mikro, fenomena ini pula  yang menjadikan taraf kesehatan masyarakat Indonesia masih jauh dari  menggembirakan. Alih-alih menjadi sembuh, tak sedikit yang akhirnya pergi ke  dokter dengan tujuan ‘mereparasi’ hasil pengobatan alternatif yang memperburuk  penyakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pasien yang datang ke dokter dengan berbagai keluhan  sebenarnya merupakan gunung es dari total masyarakat Indonesia, terutama di  pedesaan yang sebenarnya sakit namun tidak memilih untuk pergi ke dokter.  Pemerintah pun kesulitan mendata ratusan jenis penyakit, terutama penyakit  tropik infeksi, yang telah dan pernah terjadi di negara ini. Sedangkan untuk  menentukan kemakmuran suatu bangsa dalam Human Development Index, kesehatan  menempati prioritas penilaian yang tinggi bersama pendidikan dan ketersediaan  pangan. Karenanya, tak heran kalau sampai sekarang negara kita belum bisa  dibilang makmur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Life-Long  Study&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Mengapa kita mesti datang ke dokter?  Jawaban yang utama ialah karena kita ingin sembuh dari suatu penyakit. Kemudian  mengapa mesti ke dokter, sedangkan terdapat media-media lain yang dikabarkan  mampu melakukan pengobatan yang mujarab. Jawabannya karena ilmu kedokteran  merupakan salah satu cabang ilmu tertua di dunia dan selalu mengalami revisi  yang bermakna dari waktu ke waktu. Itulah sebabnya seorang dokter yang baik akan  senantiasa menerapkan prinsip life-long study, pembelajaran yang tiada  akhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa jadi metode pengobatan di tahun 2005 ini akan mengalami  perubahan 1800 di tahun yang akan datang. Menurut para dosen di fakultas  kedokteran, sebagian besar ilmu yang diperolehnya di waktu kuliah sudah tidak  layak diterapkan lagi untuk pengobatan zaman sekarang. Bukan berarti masa  kuliahnya menjadi sia-sia, namun pembelajaran di waktu kuliah akan sangat  membantu pemahaman yang baik mengenai proses terjadinya penyakit dan  penatalaksanaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya dalam dunia kedokteran pun telah dikenal  berbagai metode pengobatan yang sebagian telah diakui melalui Randomized  Controlled Trial (RCT)&lt;a class="sdfootnoteanc" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=20082938#sdfootnote1sym" name="sdfootnote1anc"&gt;1&lt;/a&gt; seperti akupunktur, metode pengobatan cina, beberapa  ramuan jamu, serta metode lainnya yang sangat bervariasi dari berbagai negara.  Semua metode ini dikelompokkan sebagai alternative and traditional medicine  (ATM). Nah, ATM yang sudah melalui RCT di Indonesia tidak banyak jenisnya. Yang  sudah diakui secara internasional hanyalah akupunktur dan pengobatan cina. Di  luar dari itu, tidak pernah teruji atau tidak pernah diuji  keabsahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, banyak yang mengeluh datang ke dokter bukannya  menjadi sembuh malah sering menjadi sakit. Apalagi jika dokter yang menangani  terlihat kurang profesional dan kadang membuat kesalahan di depan pasiennya.  Namun demikian, tetap saja apa yang telah dokter pelajari merupakan proses dari  revisi ilmu kedokteran yang terjadi terus-menerus. Mungkin kesalahan yang  terjadi atau ketidakpuasan pasien ialah salah persepsi dengan apa yang telah  dilakukan dokternya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Apa yang Dikerjakan  Dokter?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada prinsipnya profesi dokter terbagi menjadi beberapa  subtipe. Ada dokter yang berkiprah di pemerintahan dan penentu kebijakan,  seperti para dokter yang berada di Departemen Kesehatan. Ada juga yang  berorientasi pengembangan kedokteran internasional, seperti para dokter yang  berada di UN Agency macam Unicef, WHO, Unesco, dll. Ada pula dokter yang memilih  bekerja di perusahaan farmasi, kosmetik, makanan, hingga ada pula yang memilih  untuk menjadi artis. Sedangkan sisanya, yang terbanyak kita temui, ialah dokter  yang berprofesi sebagai klinisi atau klinikus, yakni dokter yang brtugas  menyembuhkan orang yang sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar mindset yang tergambar di  pikiran masyarakat ialah dokter yang berjas putih, mengalungi stetoskop, berkaca  mata, dan bertugas menyembuhkan orang sakit. Profesi demikianlah yang memang  membuat pendidikan dokter tersohor dengan lama dan beratnya. Seorang dokter yang  baik mesti menguasai struktur dan fungsi dasar manusia sehat serta manusia yang  sakit. Khusus masalah sakit, seorang dokter juga mesti memahami ratusan penyakit  yang ada di dunia. Itulah sebabnya profesi dokter sering dipilah-pilah menjadi  spesialistik tertentu. Meski demikian, dokter spesialis apapun wajib melalui  pendidikan dokter umum dan menguasai penyakit manusia secara  keseluruhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam praktek dokter, pada dasarnya kegiatan yang dilakukan  ialah menegakkan diagnosis&lt;a class="sdfootnoteanc" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=20082938#sdfootnote1sym" name="sdfootnote1anc"&gt;1&lt;/a&gt; serta melakukan tata laksana terhadap pasien yang  sakit. Menegakkan diagnosis dilakukan dengan beberapa langkah dasar, yakni  &lt;strong&gt;melakukan wawancara (anamnesis)&lt;/strong&gt; kepada pasien atau keluarganya,  kemudian &lt;strong&gt;melakukan pemeriksaan jasmani&lt;/strong&gt; terhadap organ yang  kemungkinan terpengaruh penyakit tertentu, serta &lt;strong&gt;melaksanakan  pemeriksaan penunjang&lt;/strong&gt; dengan bantuan alat-alat medis yang lebih  canggih. Tahap-tahap inilah yang penting dalam menegakkan diagnosis dan tidak  semua tahap mesti dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Anamnesis&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Wawancara terhadap pasien bisa dilakukan secara alloanamnesis (menanyakan  kepada keluarga atau pendamping pasien) serta autoanamnesis (bertanya langsung  pada si sakit). Anamnesis merupakan tahap paling penting dalam menegakkan  diagnosis penyakit. Beberapa pakar menyebutkan bahwa 60 sampai 99% persen  diagnosis penyakit dapat disimpulkan dari anamnesis. Sisanya baru dilengkapi  dengan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sistematika anamnesis terdiri dari keluhan utama (keluhan yang membawa pasien  untuk datang mencari pertolongan medis), riwayat penyakit yang terjadi sekarang,  riwayat penyakit terdahulu, riwayat penyakit keluarga dan lingkungan, keadaan  sosioekonomi, serta keadaan psikologis pasien.&lt;/p&gt;Teorinya, semua hal yang  tercantum dalam komponen anamnesis merupakan hal yang tak boleh ditinggalkan  guna menghasilkan diagnosis yang akurat. Namun pada prakteknya, anamnesis yang  lengkap dan terstruktur membutuhkan waktu yang tidak sedikit (sekitar 15 hingga  20 menit perpasien). Dengan demikian seorang dokter mesti memiliki prioritas  tersendiri tentang apa-apa yang mesti ditanyakan berkaitan dengan penyakit yang  ia duga. Tak jarang pula dokter-dokter yang berpengalaman mampu mengenali  penyakit hanya dengan sekilas melihat pasien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang dokter mesti  menjadi sosok ilmuwan yang teliti dan penuh keingintahuan terhadap berbagai  gejala yang muncul. Di satu sisi, dokter yang baik juga mesti memiliki emotional  quotient yang tinggi agar pasien merasa nyaman berada di dekatnya. Singkat kata,  dalam anamnesis ini kemampuan dokter untuk berkomunikasi secara menyenangkan  mesti terintegrasi dengan kemampuan medis yang  tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pemeriksaan Fisik&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah tindakan yang  sering menjadi salah kaprah orang-orang awam terhadap para dokter. Banyak yang  berpikir bahwa datang ke dokter mesti diperiksa, dibuka bajunya, didengar dengan  stetoskop, serta tindakan-tindakan lain yang tidak terlalu umum dikerjakan  masyarakat awam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, baik dalam teori dan prakteknya, penegakan  diagnosis pasien sebagian besar sudah bisa digali dengan anamnesis. Pemeriksaan  yang dilakukan tehadap fisik pasien hanyalah menjadi penguat keyakinan dokter  terhadap dugaan penyakit dan kelainan organ yang muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau bisa  &lt;em&gt;dibilang&lt;/em&gt; jujur, beberapa dokter bahkan melakukan pemeriksaan fisik  hanya sebagai ritual plasebo&lt;a class="sdfootnoteanc" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=20082938#sdfootnote1sym" name="sdfootnote1anc"&gt;1&lt;/a&gt;. Pasalnya, tak bisa dipungkiri bahwa datang ke dokter  tanpa ‘dipegang’ oleh dokter tersebut sepertinya kurang afdhal. Jangankan  dipegang, beberapa pasien bahkan baru melihat dokternya saja sudah merasa sembuh  dan tenang hatinya. Jangan salah, pasien-pasien yang seperti ini tidak hanya  berasal dari kalangan pasien kurang terdidik atau pasien yang kurang mampu.  Beberapa pasien bonafide pun masih merasa bahwa kehadiran dan&lt;br /&gt;tindakan yang  dilakukan dokter mampu memberikan dorongan psikologis terhadap  dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;80% kesembuhan penyakit sangat tergantung dari persepsi seorang  terhadap kesembuhan dirinya. Sebenarnya yang diutamakan dari seorang dokter  ialah usaha dia dalam mencoba menyembuhkan penyakit pasien. Selebihnya, hanya  Allah SWT yang mampu menyembuhkan penyakit setiap orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Farid Abdul Hadi  (Mahasiswa kedokteran UI)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3789100955354128565-3803461235999213213?l=legasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://legasi.blogspot.com/feeds/3803461235999213213/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3789100955354128565&amp;postID=3803461235999213213' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3789100955354128565/posts/default/3803461235999213213'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3789100955354128565/posts/default/3803461235999213213'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://legasi.blogspot.com/2006/01/apa-yang-dokter-lakukan-di-ruang_19.html' title='Apa yang Dokter Lakukan di Ruang Prakteknya? (bagian satu dari dua tulisan)'/><author><name>IAIC Learning Center</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3789100955354128565.post-4702980204603121312</id><published>2006-01-20T09:00:00.000+07:00</published><updated>2006-12-18T09:02:14.287+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='+ Socio Medicine Studies'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Writer: Farid Abdul Hadi'/><title type='text'>Apa yang Dokter Lakukan di Ruang Prakteknya? (bagian dua dari dua tulisan)</title><content type='html'>&lt;div class="post-body"&gt; &lt;div&gt; &lt;strong&gt;Apa Saja yang Diperiksa  Dokter?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pemeriksaan jasmani/fisik merupakan  prosedur standar yang sebaiknya meliputi seluruh organ tubuh manusia, mulai dari  ujung rambut hingga ke ujung kaki. Pada prinsipnya, bisa saja organ-organ  tertentu mengalami kerusakan dan tidak terdeteksi atau dirasakan pasien.  Dosen-dosen mengajarkan, dokter mesti mampu menjadi detektif ulung sekaligus  ustadz yang berbudi. Dokter yang berkecimpung di bidang penyakit dalam, terutama  geriatri&lt;a class="sdfootnoteanc" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=20082938#sdfootnote1sym" name="sdfootnote1anc"&gt;1&lt;/a&gt; tentu akan melakukan pemeriksaan fisik yang detail dan  menyeluruh, sebab tidak semua pasien mampu menceritakan keluhannya dengan  baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara dokter bedah yang bertugas jaga di instalasi gawat  darurat tentu lebih memperhatikan organ-organ tertentu saja yang sedang  mengalami kerusakan. Tidak perlu melakukan pemeriksaan rambut sedangkan kaki  pasien sudah ‘buntung’ dan memerlukan penyambungan segera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara  berbagai tipe penyakit, terdapat beberapa penyakit yang menjadi &lt;em&gt;frequent  patient complain&lt;/em&gt;. Di negara manapun, common cold (bahasa kerennya: meriang  atau masuk angin; batuk pilek nggak enak badan) menempati urutan pertama  penyakit yang membuat pasien pergi ke dokter. Di indonesia, disusul oleh  berbagai penyakit tropik, seperti Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), demam  tifoid (tifus), demam berdarah Dengue, apendisitis (usus buntu), serta  penyakit-penyakit degeneratif (penyakit orang lanjut usia) macam diabetes,  hipertensi, sindrom dispepsia, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa contoh pemeriksaan fisik  yang sering dokter lakukan ialah auskultasi&lt;a class="sdfootnoteanc" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=20082938#sdfootnote1sym" name="sdfootnote1anc"&gt;1&lt;/a&gt; bunyi paru (pernapasan) serta bunyi jantung. Bunyi  pernapasan menjadi penting didengar karena banyak sekali pasien yang datang  dengan keluhan gangguan pernapasan, berupa pilek, batuk, terutama batuk berdahak  dan berkepanjangan. Auskultasi jantung juga penting dilakukan karena penyakit  jantung sering menyerupai manifestasi penyakit-penyakit lain. Selain auskultasi  dada, auskultasi perut juga dilakukan untuk mengetahui bising usus  (kriuk,,kriuk,,). Selebihnya, pemeriksaan disesuaikan dengan dugaan tentang  penyakit tersebut. Bisa dari mata, gigi, gusi, tangan, kaki, dan  sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa Bayar Mahal?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika dokter dihadapkan pada  penyakit tertentu, yang ada di pikiran mereka ialah struktur anatomis dan  fisiologi manusia serta kemungkinan kerusakan organ akibat penyebab tersebut.  Karenanya, seorang dokter mesti bersekolah sangat lama dan nantinya ilmu dari  sekolahannya dulu akan kurang berguna lagi. Dokter yang baik akan terus  memperbarui ilmunya yang berubah bukan dalam hitungan puluhan tahun, namun dari  bulan ke bulan, karena kesehatan merupakan lahan yang subur untuk penelitian,  banyak biaya, banyak kepentingannya, tak heran biaya untuk memperoleh ilmu  tersebut tidaklah sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai gambaran, di samping mahasiswa  kedokteran yang memang biaya pendidikannya sangat jauh melampau mahasiswa  lainnya, para mahasiswa ini pun mesti rela waktu mudanya dihabiskan untuk  belajar dengan giat sebaik mungkin agar tidak ketinggalan sedikitpun. Calon  Dokter yang agak malas belajar sebenarnya bisa dikatakan dapat membahayakan  kualitas hidup manusia ketika nanti dia praktek di masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi  para dokter spesialis yang setiap tahun mesti memperbarui ilmunya dengan  mengikuti konferensi tingkat nasional serta kongres internasional dan regional.  Tak heran dokter-dokter tersebut sering bolak-balik ke luar negeri. Selain  menghadiri pertemuan ilmiah, mereka pun mesti membangun relasi dengan dokter di  negara lain agar kualitasnya tidak kalah di mata dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuliahnya  melelahkan, biaya kuliahnya mahal, membutuhkan nalar dan kemampuan berpikir yang  tinggi, mesti memperbarui ilmu terus-menerus, ditambah sering dituntut jika  sedikit saja melakukan (dugaan) kesalahan, merupakan sebagian alasan yang  menyebabkan biaya kesehatan memang mesti tinggi, di manapun dia  berada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecuali kamu tinggal di Kuba atau Vietnam, pemerintah di sana  membiayai semua pelayanan kesehatan dari primer hingga tersier (yang  canggih-canggih). Sedangkan di Amerika dan Eropa (barat) hampir semua  penduduknya mesti memiliki asuransi kesehatan. Dengan demikian masyarakat mesti  membayar premi, bukan jasa. Di negara kita, sistem yang dipakai ialah fee for  service, out of pocket, yakni dokter dibayar dari kantong pasien yang  bersangkutan. Namun bedanya, di sini ada Askes untuk pegawai negeri dan Jaring  Pengaman Sosial (JPS) Keluarga Miskin (Gakin) untuk orang-orang  miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Malah Memperburuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Satu kasus medis yang  sering sekali menjadi contoh mengenai keengganan pasien berobat ke dokter  kemudian malah memperburuk keadaan ialah patah tulang. Patah tulang (fraktur)  secara gampang memiliki arti diskontinuitas rangka manusia. Kasus medis ini  relatif mudah ditangani oleh dokter umum, serta memiliki prognosis yang baik  jika diterapi dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, 80% orang yang patah atau diduga  patah tulangnya, terutama akibat kecelakaan, bukannya dibawa ke dokter namun  lebih memilih diantar ke dukun, tabib, atau ahli patah tulang terdekat.  Alasannya macam-macam, bukan saja sekedar enggan membayar lebih untuk ke dokter,  namun ada juga yang beralasan, di dokter sembuhnya lama, repot karena mesti  digips, atau takut dioperasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, pengobatan patah tulang yang  paling utama ialah imobilisasi, yakni menjaga tulang yang patah tidak (banyak)  bergerak dari posisi normalnya. Dengan demikian, kalau tulangmu patah dan kamu  pergi ke dokter, niscaya kamu akan dibantu supaya tulangmu yang patah tidak  banyak berpindah dari posisi normalnya dengan cara diberi gips. Cukup simpel.  Sebagai pelengkap, kamu mungkin akan diberikan pain reliever (analgetik) atau  antiinflamasi (antiradang) jika terdapat tanda-tanda peradangan di daerah tulang  yang patah. Antibiotik tidak banyak diberikan kecuali terdapat luka terbuka yang  menganga lebar. Antibiotik dan imunisasi (antitetanus) ini biasanya diberikan  dengan cara disuntik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasalnya, tulang manusia merupakan organ yang  sangat mudah berproliferasi dan regenerasi dengan cepat asalkan dipertemukan  dengan organ lain yang berdekatan. Jadi, kalau tulangmu patah dan tidak digips,  malah diurut (baca: dipaksa) agar bentuknya kembali seperti semula,  dikhawatirkan ada fragmen tulang yang malah terpisah dari pasangannya, kemudian  menjauh, sehingga proses penyembuhannya berlangsung tidak optimal. Lebih lama,  lebih sakit, dan tak jarang, hasil akhirnya, bentuknya jadi aneh; miring-miring,  bengkok, dsb. Kalau sekedar bengkok di tangan sih nggak terlalu masalah. Namun  jika bengkok ini di kaki (tungkai), seumur hidup orang tersebut akan jalan  pincang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari 80% pasien patah tulang yang akhirnya ke dukun, sekitar  85-90% akan kembali ke dokter dengan berbagai keluhan. Ada yang miring-miring  dan pincang (nonunion postfracture os tibiofibula), ada yang jadi borokan di  tulang karena infeksi (osteomyelitis), ada juga yang nggak kuat menahan sakit  dan merasa ngeri karena setiap hari mendengar gesekan tulang-tulang yang tidak  diimobilisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demkian, sebisa mungkin jika sakit, pilihlah dokter  yang dipercaya dan berobatlah ke sentra pengobatan terdekat. Jika kurang mampu  ke dokter spesialis, silakan ke dokter umum, jika kurang mampu juga, bisa ke  Puskesmas atau RS Pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zaman sekarang sebenarnya semua kalangan  bisa tertolong untuk pergi ke pengobatan yang benar. Para karyawan biasanya  dijamin oleh kantornya dengan asuransi. Para pegawai negeri memiliki Askes untuk  berobat ke puskesmas dan rumah sakit pemerintah. Para keluarga militer bisa  mendapatkan jaminan kesehatan untuk berobat, terutama di rumah-rumah sakit  militer. Orang-orang yang miskin bisa mengurus surat keterangan miskin untuk  memperoleh JPS-Gakin agar bisa berobat gratis di rumah sakit  pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jadi masalah ialah repotnya birokrasi untuk mengurus  beberapa hal di atas serta keengganan masyarakat untuk mengurus hal tersebut.  Sebagian pasien juga ada yang merasa gengsi untuk mengurus surat Gakin atau  menggunakan Askes. Sebagian lagi dari karyawan swasta masih ada saja yang  melebih-lebihkan kwitansi pengobatan agar mendapat penggantian yang lebih besar.  Alih-alih jadi untung, ketika besok-besoknya dia sakit, justru perusahaan  menjadi kurang percaya dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lepas dari itu semua, yang paling  penting sebenarnya ialah MENJAGA KESEHATAN. Inilah nikmat termahal yang  diberikan Allah kepada kita. Jagalah sebaik mungkin, sebab pengobatan hanyalah  menyembuhkan sekitar 20% dari fungsi tubuh secara normal. Yang paling utama  ialah bagaimana kita menjaga agar jangan sampai menjadi sakit. Sedia payung  sebelum hujan, prevention is much better than curation.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Farid Abdul Hadi  (Mahasiswa Kedokteran UI) &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3789100955354128565-4702980204603121312?l=legasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://legasi.blogspot.com/feeds/4702980204603121312/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3789100955354128565&amp;postID=4702980204603121312' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3789100955354128565/posts/default/4702980204603121312'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3789100955354128565/posts/default/4702980204603121312'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://legasi.blogspot.com/2006/01/apa-yang-dokter-lakukan-di-ruang.html' title='Apa yang Dokter Lakukan di Ruang Prakteknya? (bagian dua dari dua tulisan)'/><author><name>IAIC Learning Center</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3789100955354128565.post-1766075459760305508</id><published>2006-01-06T09:09:00.000+07:00</published><updated>2006-12-18T09:11:50.214+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Writer: Yuti Ariani'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='+ Technology Studies'/><title type='text'>Teknologi dan Masyarakat</title><content type='html'>&lt;div class="post-body"&gt; &lt;div&gt;  &lt;div align="justify"&gt;Mampukah teknologi meningkatkan kesejahteraan masyarakat?  Jawabannya harus ya, karena teknologi diciptakan untuk mempermudah kehidupan  manusia. Namun pada kenyataannya, teknologi bukan hanya sebatas alat untuk  mempermudah kehidupan manusia. Keberadaan suatu teknologi terkait erat dengan  faktor sosial-ekonomi. Seperti keberadaan IPTN(kini PT DI) yang kelangsungannya  terkait erat dengan keadaan moneter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div align="justify"&gt;Pada tahun 1996, salah satu topik yang hangat diperbincangkan  adalah keberhasilan Indonesia membuat pesawat. Keberhasilan ini kemudian  diabadikan dalam momen Indonesia Air Show(IAS) 1996, dimana Gatot Kaca menjadi  primadona diantara pesawat tempur-pesawat tempur dari Amerika dan Rusia yang  turut memeriahkan ajang bertaraf internasional tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;div align="justify"&gt;Sayangnya kebanggaan masyarakat Indonesia akan keberhasilan  Gatot Kaca bukan jaminan keberlangsungan pembuatan pesawat-pesawat nusantara  lainnya. Krisis tahun 1997 silam, mengakibatkan IPTN, harus melakukan banyak  perampingan, mulai dari alokasi dana hingga pengurangan tenaga kerja. Pro-kontra  IPTN pun mulai mengemuka ke wilayah publik. Pihak pro menilai IPTN sebagai  sebuah aset jangka panjang yang harus dipertahankan. Sedangkan salah satu alasan  yang dilontarkan oleh pihak kontra adalah, masyarakat Indonesia saat ini lebih  membutuhkan teknologi tepat guna yang dapat mendukung kehidupan masyarakat  secara langsung. Teknologi tepat guna inilah yang seharusnya memperoleh  prioritas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div align="justify"&gt;Terlepas dari pro-kontra PT DI dengan teknologi tingginya,  teknologi seharusnya tidak hanya menjadi milik sebagian elit. Kaum elit ini  adalah orang-orang yang memahami dan memiliki akses pada teknologi. Secara alami  kaum elit ini tidak terhindarkan, karena untuk memahami suatu teknologi  diperlukan pendidikan, pelatihan serta praktek yang membutuhkan waktu. Namun  keadaan ini tidak boleh dibiarkan dengan memfokuskan penerapan teknologi pada  tempat atau kalangan terbatas. Penerapan teknologi yang terpusat di kota-kota  besar misalnya, menyebabkan desa ditinggalkan oleh orang-orang usia produktif.  Selain itu, desa yang ditinggalkan cenderung masih menggunakan pola-pola  pengolahan hasil perkebunan atau pertanian secara konvensional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;div align="justify"&gt;Dalam tulisannya yang berjudul Perspektif Pengembangan  Teknologi Tepat Guna, Prof. Dr. Muhammadi Siswo Sudarmo mengungkapkan, ada empat  parameter keberhasilan sebuah teknologi. Faktor pertama adalah kelayakan teknis.  Faktor kedua, teknologi harus menghasilkan produktivitas ekonomi atau keuntungan  finansial. Faktor ketiga, teknologi harus dapat diterima oleh masyarakat  pengguna. Dan yang terakhir, teknologi harus serasi dengan lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div align="justify"&gt;Hal menarik yang diungkapkan oleh Prof. Dr. Muhammadi  mengenai penerapan teknologi di daerah pedesaan--yang masyarakatnya termasuk  golongan menengah kebawah--adalah adanya sindrom kemiskinan. Sindrom ini  merupakan keadaan masyarakat yang pasrah akan kemiskinannya, dan tidak merasa  perlu atau tidak mampu untuk berjuang meningkatkan kesejahteraannya. Adanya  sindrom ini berpengaruh pada keberhasilan teknologi faktor ketiga. Selain karena  adanya sebuah ‘kemapanan’ akan kondisi mereka, teknologi tepat guna juga sering  dipandang sebagai benda asing. Hal ini terungkap dari penerapan teknologi tepat  guna di beberapa kecamatan. Seperti tungku Singer yang efisien, kurang berhasil  karena tidak diminati oleh masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div align="justify"&gt;Pada masyarakat perkotaan, teknologi hadir disertai sebuah  proses. Masyarakat pengguna mengetahui darimana asal serta manfaat sebuah  teknologi. Sedangkan di masyarakat pedesaan, teknologi lebih sering diadopsi.  Artinya, keinginan akan perubahan tidak datang dari masyarakat itu sendiri  melainkan dari luar. Keadaan ini cocok dengan gambaran sindrom kemiskinan, yaitu  tidak mau merubah kondisi yang ada pada diri mereka, apalagi dengan menerima  sebuah cara-cara baru dalam bertanam, mengolah minyak sawit, mengawetkan manisan  nanas dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;div align="justify"&gt;Ada dua persoalan penting yang menyebabkan teknologi sulit  memasyarakat. Pertama, dari segi teknologi itu sendiri. Pada kasus teknologi  hasil adopsi, ada kemungkinan teknologi yang dibawa tidak sesuai dengan  topografi, kondisi sosial-ekonomi masyarakat yang akan menggunakan teknologi  tersebut. Seperti, penggunaan kincir angin sebagai penghasil listrik. Tidak di  semua tempat kincir angin efisien, bagi Indonesia yang daerahnya senantiasa  memperoleh sinar matahari, mungkin lebih efisien jika menggunakan pembangkit  listrik tenaga surya. Selain itu, untuk daerah pedesaan, teknologi yang muncul  pada umumnya merupakan hasil dari pengamatan ahli yang berasal dari luar.  Akibatnya, teknologi yang dihasilkan merupakan perkiraan/pendekatan dari  penafsiran ahli tersebut terhadap kebutuhan suatu desa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div align="justify"&gt;Persoalan kedua muncul dari masyarakat pengguna. Tradisi atau  cara-cara tradisional yang mereka lakukan secara turun temurun cukup sulit  diubah. Dari beberapa cerita yang penulis peroleh, penerapan teknologi tepat  guna lancar selama proses pendampingan. Namun saat memasuki tahap pengawasan  yang dilakukan dengan periode waktu tertentu, masyarakat pada umumnya kembali  menggunakan pola-pola lama. Hambatan dari masyarakat juga disebabkan karena  minimnya informasi akan apa yang mereka lakukan. Ada kasus suatu daerah yang  terbuka akan perubahan, namun kesempatan ini dimanfaatkan oleh suatu produsen  untuk menciptakan ketergantungan masyarakat desa pada satu produk ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;div align="justify"&gt;Selain itu permasalahan banyaknya tengkulak serta  tarikan-tarikan tidak resmi dari berbagai oknum juga memperumit hubungan antara  teknologi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dari uraian di atas terlihat  bahwa teknologi tidak sebatas bagaimana menciptakan mesin-mesin canggih yang  efektif dan efisien, namun juga meliputi persoalan sosial, budaya, manajemen  serta komunikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div align="justify"&gt;Karena itu nama pesawat Gatot Kaca yang diambil dari tokoh  dalam pewayangan, selayaknya tak hanya menjadi bagian dari sejarah. Sebagaimana  kisahnya yang mampu bertransformasi setelah masuk ke kawah candradimuka, yang  menjadi tugas kita adalah: bagaimana memanfaatkan kawah candradimuka bernama  tantangan global, menjadi sebuah sarana untuk melahirkan Gatot Kaca-Gatot Kaca  baru yang mampu mensejahterakan rakyat? []&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Yuti Ariani (Mahasiswa  Matematika ITB)&lt;br /&gt;Jl. Cihapit no. 9&lt;br /&gt;Bandung 40114&lt;br /&gt;(022) 4206377&lt;br /&gt;0815  6069 266&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3789100955354128565-1766075459760305508?l=legasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://legasi.blogspot.com/feeds/1766075459760305508/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3789100955354128565&amp;postID=1766075459760305508' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3789100955354128565/posts/default/1766075459760305508'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3789100955354128565/posts/default/1766075459760305508'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://legasi.blogspot.com/2006/01/teknologi-dan-masyarakat.html' title='Teknologi dan Masyarakat'/><author><name>IAIC Learning Center</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3789100955354128565.post-7891934692506725983</id><published>2005-12-23T09:12:00.000+07:00</published><updated>2006-12-18T09:13:29.059+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='- IAIC'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dewan Eksekutif Pusat IAIC'/><title type='text'>iLC</title><content type='html'>&lt;div class="post-body"&gt; &lt;div&gt;  &lt;div align="justify"&gt;iLC, iAic Learning Center adalah sebuah media untuk para  iAic'rs menuangkan isi pikirannya dalam bentuk yang lebih formal, bisa berupa  tulisan, foto, sket, gambar, ataupun apa saja yang bisa menjadi media yang dapat  divisualkan dan diabadikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;div align="justify"&gt;Tentunya disemua taman bermain pasti ada aturan bermainnya.  Untuk menjadi anggota iLC idealnya memahami visi iAic, maksudnya iLC ini  diperuntukkan untuk menggali pemikiran-pemikiran untuk menjadi kritik, solusi,  ataupun sekedar penilaian terhadap apa yang terjadi di masyarakat. Intinya  bagaimana menimbulkan kepedulian dan membagi isi pemikiran.&lt;/div&gt; &lt;div align="justify"&gt;iLC juga mengeluarkan e-bulletin yakni LEGACY, untuk hal-hal  yang lebih formal dan memiliki aturan main yang lebih ketat, yakni  tulisan-tulisan ataupun pemikiran-pemikiran dari seseorang kami anggap sebagai  orisinilitas dari pemikiran individu tersebut, dengan seringnya sang individu  menulis, kami dapat mengobservasi dalamnya pemikiran individu tersebut yang pada  akhirnya kami undang menulis pada LEGACY.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;div align="justify"&gt;LEGACY juga memiliki nilai politis sebagai kendaraan atau  barisan depan untuk membawa pemikiran-pemikiran teman-teman yang lain dalam  iLC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;div align="justify"&gt;So, pasti tertarik gabung di iLC silakan confirm ke &lt;a href="mailto:iaic0406@yahoo.com"&gt;iaic0406@yahoo.com&lt;/a&gt; dan berikan identitas  singkat berupa email, jenjang pendidikan yang diikuti sekarang, interest, buku  unggulan dan lainnya yang dirasakan perlu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3789100955354128565-7891934692506725983?l=legasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://legasi.blogspot.com/feeds/7891934692506725983/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3789100955354128565&amp;postID=7891934692506725983' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3789100955354128565/posts/default/7891934692506725983'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3789100955354128565/posts/default/7891934692506725983'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://legasi.blogspot.com/2005/12/ilc.html' title='iLC'/><author><name>IAIC Learning Center</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
