When people just know, prefer, than “more”..
Sejauh ini legalitas BSO baru mencapai SK Organisasi yang dikeluarkan oleh Kepengurusan Pusat IAIC. Ketika hanya mencangkupkinerja internal maka hal ini sudah lebih dari cukup, akan tetapi ketika BSO mewakili kebijakan strategis jangka panjang yang menlibatkan eksistensinya dalam Masyarakat secara umum, BSO ahrus memiliki legalitas yang lebih dari SK Organisasi. Akta Pendirian atau secara tersurat tercantum AD/ART adalah langkah berikutnya yang harus ditempuh.
Sebelum lebih jauh tentang legalitas BSO, ada baiknya saya menjelaskan visi yang dititipkan dalm BSO ini. Badan Semi Otonom IAIC mewakili pengejewantahan strategi kebijakan jangka panjang dan cara pencapaian. Akan tetapi BSO harus dibuat pula sedikit terikat dengan kepentingan IAIC, artinya tujuan puncak dari BSO ini adalah menopang agresifitas IAIC sebagai Organisasi, yang terbatasi dari ruang lingkup anggotanya. Artinya status sebagai alumni Insan Cendekia menjadikan IAIC sebagai sebuah Organisasi yang kenaggotaannya terbatas, dimana hal itu bila tidak disikapi akan menajdikan eksklusifisme sempit, yang menjadikan IAIC tidak dapat mendistribusikanmanfaatnya karena permasalahan internalnya.
Dalam pencapaian Organisasi, BSO mengambil posisi sebagai “tangan panjang” dewan presidium, yang akan diusulkan pada Mubes IV ini, dengan kata lain perubahan ini dirasa perlu, karena bagaimanapun dinamisasi IAIC ahrus terus disesuaikan dengan perkembangan yang terjadi.
Selayaknya Institusi Otonom yang sedikit terikat, maka BSO memiliki keterikatan dalam hal tujuan puncak, dan menajdikan pengembangan IAIC bergantung secara penuh pada individu-individu yang concern didalamnya.
Keanggotaan BSO tidak otomatis seperti keanggotaan IAIC, hanya anggota IAIC atau non-anggota (belum dibicarakan lebih lanjut) yang memang concern didalamnya yang dapat menajdi anggota BSO, tentu pula disesuaikan dengan prasyarat yang diinginkan oleh BSO tersebut.
Sebagai contoh, Koperasi IAIC, hanya cukup mensyaratkan Anggota IAIC yang memiliki dana wajib sebesar Rp. 5.000,- (sejauh ini), dan non-Anggota IAIC yang memiliki dana potensial, tentu lebih dari sebesar Rp. 5.000,-.
ILC yang memberi syarat memiliki self belonging terhadap keilmuan dan keinginan dediaksi tanpa batas kepada Masyarakat secara umum.
Pencinta Alama IAIC, yang memberi syarat tingkat loyalitas yang tinggi dengan penkaderan yang kuat, akan menjadi poris utama dalam pengembangan BSO ini.
Kembali pada topik awal, pengembangan BSO ini bisa menjadi sebuah awal terbukanya ekslusifisme sempit IAIC, dan BSO ini juga menjadi garda depan pencapaian dedikasi kepada masyarakat luas.
Yang perlu diingat, pengembangan BSO tidak terpaku pada mekanisme IAIC secara gamblang, artinya perundangan dalam BSO diatur oleh BSO itu sendiri dan diawasi oleh Dewan Presidium IAIC. Dengan kata lain BSO adalah garda depan IAIC itu sendiri dalam perihal pengejewantahan dedikasi ke masyarakat luas.
Untuk kedepannya perihal BSO ini bisa diakses melalui www.insancendekia.org, akan tetapi perlu dimengerti pula pengembangan IAIC maupun BSO ini akan menjadi lebih mudah bila diikuti pula oleh konsistensi dan kepedulian anggota IAIC.
--
ABDULLAH ARIFIANTO '02
Site: [www.andoide.com]
Blog: [ www.andocurhat.andoide.com ]
YM: [ eaton_gai ]
the man who has no imagination has no wings to fly high
Tampilkan postingan dengan label Dewan Eksekutif Pusat IAIC. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dewan Eksekutif Pusat IAIC. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 09 Desember 2006
Jumat, 01 Desember 2006
Restrukturisasi IAIC
IAIC tidak akan bisa besar secara massif tapi ia bisa besar karena manfaatnya.
Sebelum memahami akan perubahan struktur IAIC, anak judul dibawahnya ahrus dapat dipahami sebagai dasar pemikirannya.
Sejauh ini IAIC berperan sebagai paguyuban bagi anggotanya, dan seiring dengan semakin berkembangnya individu didalamnya, mengakibatkan wadah yang dahulu tersa lapang, kini telah sempit, artinya cakupan IAIC harus diluaskan. Yang sebelumnya hanya bersifat masuk kedalam artinya memberi manfaat ke anggotanya kini diluaskan cakupannya dengan memberi manfaat ke luar, yakni masyarakat secara umum. Berikut pula harapan agar IAIC bisa lebih dari sekedar paguyuban bagi anggotanya, tapi juga sebagai sebuah sistem inkubator yang bisa mengembangkan anggotanya.
Agar IAIC bisa seperti itu, maka ada sedikit perubahan-perubahan yang harus dilakukan, tahapan awal dengan melepas fungsi administrastif pada puncak kepemimpinan IAIC, artinya puncak kepemimpinan IAIC harus dikondisikan memiliki wewenang dan kebebasan menghasilkan kebijakan strategis untuk pengembangan IAIC dan anggotanya.
Sebagai contoh kasus, ketika draft pengembangan alumni mau diajukan, ada permasalahan mendasar, yakni fungsi ketua yang masih terbebani dengan permasalahan administratif, sehingga masih mencoba mengoptimalkan kinerja kepengurusan. Dan pada kepengurusan ini diambil sebuah strategi mengoptimalkan fungsi yang ada, dan mulai menempatkan fungsi khusus pada tim yang bisa lebih independen dan optimal kinerjanya, yang ditandai dengan pembentukan BSO. Sehingga bisa dilihat bahwa kepengurusan sekarang menjadi bentuk kepengurusan transisi dalam rangka mempersiapkan IAIC yang lebih mantap.
Puncuk kepemimpinan IAIC yang dilepas fungsi administratifnya (yakni ketua) digantikan dengan sebuah tim yang solid, diwakili oleh berbagai kalangan (angkatan) yang bisa memberi peran IAIC lebih dari sekedar paguyuban. Dan ini yang kita coba sebut dengan Dewan Presidium. Dan fungsi administratif ketua digantikan oleh sekretaris jenderal (sekjen) yang lebih fokus pada pengoptimalkan kinerja kepengurusan wilayah.
Dalam menjalankan tugasnya sebenarnya secara sederhana dapat dijabarkan Dewan presidium mengkoordinasikan perihal "dedikasi ke masyarakat", dan sekretaris jendral mengkoordinasikan "silaturahmi" dengan mengoptimalkan peran IAIC wilayah. Fungsi stretegsi ini kemudian dapat dikembangkan dengan terus mengembangkan peranannya secara optimal.
Kedua fungsional tersebut, dewan presidium dan sekretaris jenderal dan stafnya kita sebut badan eksekutif pusat dengan puncuk pimpinan tertinggi adalah dewan presidium.
IAIC juga memerlukan menjalankan fungsi kepanesehatan, yang terdiri dari beberapa elemen, diantaranya dewan kehormatan, dimana dewan kehormatan adalah anggota IAIC yang diangkat menjadi dewan kehormatan, baik karena perannya dalam IAIC ataupun sebab lain. Lalu dewan penasehat, dewan penasehat adalah individu2 diluar dewan kehormatan yang dirasa perlu dimintai atau dilibatkan dalam pengembangan IAIC dalam sebuah kepengurusan. Dan kemudian pihak yang terkahir sebagai penasehat adalah pihak almamater yang diwakili oleh pejabat terkait.
Restrukturisasi IAIC ini secara sederhana tidak akan mengalami perubahan signifikan, hanya perubahan dari sistem ketua menjadi sistem dewan. Akan tetapi bila mau melihat secara detail fungsi-fungsi dalam sebuah kepengurusan mampu bertambah luas, selain karena penambahan personel.
Satu hal lagi yang menjadikan ini perubahan signifikan, dewan presidium dapat dipilih lepas angkatan, artinya siapa saja dapat menjadi anggota presidium (berjumlah 5orang), asalkan disepakati oleh mubes IAIC, dan pengembangan IAIC tidak terpaku dengan keterbatasan satu orang ketua saja.
Akan tetapi perlu disadari bila uraian tersebut diatas harus kita pindahkan dalam bentuk uraian dalam AD/ART memerlukan kecermatan dalam mendeskripsikannya dalam bentuk pasal-pasal AD/ART, dan inilah yang kemudian dicoba dilakukan sebelum MUBES IV IAIC.
Yogyakarta, 30 Nopember 2006
--ABDULLAH ARIFIANTO
Site: [http://www.andoide.com/]
Blog: [ http://www.andocurhat.andoide.com/ ]
YM: [ eaton_gai ]
Sebelum memahami akan perubahan struktur IAIC, anak judul dibawahnya ahrus dapat dipahami sebagai dasar pemikirannya.
Sejauh ini IAIC berperan sebagai paguyuban bagi anggotanya, dan seiring dengan semakin berkembangnya individu didalamnya, mengakibatkan wadah yang dahulu tersa lapang, kini telah sempit, artinya cakupan IAIC harus diluaskan. Yang sebelumnya hanya bersifat masuk kedalam artinya memberi manfaat ke anggotanya kini diluaskan cakupannya dengan memberi manfaat ke luar, yakni masyarakat secara umum. Berikut pula harapan agar IAIC bisa lebih dari sekedar paguyuban bagi anggotanya, tapi juga sebagai sebuah sistem inkubator yang bisa mengembangkan anggotanya.
Agar IAIC bisa seperti itu, maka ada sedikit perubahan-perubahan yang harus dilakukan, tahapan awal dengan melepas fungsi administrastif pada puncak kepemimpinan IAIC, artinya puncak kepemimpinan IAIC harus dikondisikan memiliki wewenang dan kebebasan menghasilkan kebijakan strategis untuk pengembangan IAIC dan anggotanya.
Sebagai contoh kasus, ketika draft pengembangan alumni mau diajukan, ada permasalahan mendasar, yakni fungsi ketua yang masih terbebani dengan permasalahan administratif, sehingga masih mencoba mengoptimalkan kinerja kepengurusan. Dan pada kepengurusan ini diambil sebuah strategi mengoptimalkan fungsi yang ada, dan mulai menempatkan fungsi khusus pada tim yang bisa lebih independen dan optimal kinerjanya, yang ditandai dengan pembentukan BSO. Sehingga bisa dilihat bahwa kepengurusan sekarang menjadi bentuk kepengurusan transisi dalam rangka mempersiapkan IAIC yang lebih mantap.
Puncuk kepemimpinan IAIC yang dilepas fungsi administratifnya (yakni ketua) digantikan dengan sebuah tim yang solid, diwakili oleh berbagai kalangan (angkatan) yang bisa memberi peran IAIC lebih dari sekedar paguyuban. Dan ini yang kita coba sebut dengan Dewan Presidium. Dan fungsi administratif ketua digantikan oleh sekretaris jenderal (sekjen) yang lebih fokus pada pengoptimalkan kinerja kepengurusan wilayah.
Dalam menjalankan tugasnya sebenarnya secara sederhana dapat dijabarkan Dewan presidium mengkoordinasikan perihal "dedikasi ke masyarakat", dan sekretaris jendral mengkoordinasikan "silaturahmi" dengan mengoptimalkan peran IAIC wilayah. Fungsi stretegsi ini kemudian dapat dikembangkan dengan terus mengembangkan peranannya secara optimal.
Kedua fungsional tersebut, dewan presidium dan sekretaris jenderal dan stafnya kita sebut badan eksekutif pusat dengan puncuk pimpinan tertinggi adalah dewan presidium.
IAIC juga memerlukan menjalankan fungsi kepanesehatan, yang terdiri dari beberapa elemen, diantaranya dewan kehormatan, dimana dewan kehormatan adalah anggota IAIC yang diangkat menjadi dewan kehormatan, baik karena perannya dalam IAIC ataupun sebab lain. Lalu dewan penasehat, dewan penasehat adalah individu2 diluar dewan kehormatan yang dirasa perlu dimintai atau dilibatkan dalam pengembangan IAIC dalam sebuah kepengurusan. Dan kemudian pihak yang terkahir sebagai penasehat adalah pihak almamater yang diwakili oleh pejabat terkait.
Restrukturisasi IAIC ini secara sederhana tidak akan mengalami perubahan signifikan, hanya perubahan dari sistem ketua menjadi sistem dewan. Akan tetapi bila mau melihat secara detail fungsi-fungsi dalam sebuah kepengurusan mampu bertambah luas, selain karena penambahan personel.
Satu hal lagi yang menjadikan ini perubahan signifikan, dewan presidium dapat dipilih lepas angkatan, artinya siapa saja dapat menjadi anggota presidium (berjumlah 5orang), asalkan disepakati oleh mubes IAIC, dan pengembangan IAIC tidak terpaku dengan keterbatasan satu orang ketua saja.
Akan tetapi perlu disadari bila uraian tersebut diatas harus kita pindahkan dalam bentuk uraian dalam AD/ART memerlukan kecermatan dalam mendeskripsikannya dalam bentuk pasal-pasal AD/ART, dan inilah yang kemudian dicoba dilakukan sebelum MUBES IV IAIC.
Yogyakarta, 30 Nopember 2006
--ABDULLAH ARIFIANTO
Site: [http://www.andoide.com/]
Blog: [ http://www.andocurhat.andoide.com/ ]
YM: [ eaton_gai ]
Rabu, 29 November 2006
MUBES IAIC
a step to make it (IAIC) forward
Komik Fantasista dan Go yang sering saya baca di asrama waktu itu, yang berceritakan tentang permainan sepakbola, mengilhami satu cerita kepada saya. Yaitu tentang filosofi permainan sepakbola itu sendiri, membawa bola itu kedepan, walau cuma satu langkah semua orang harus berusaha.
Lalu, kita bercerita tentang IAIC, bila setiap orang melihat dalam satu lapangan besar yang berisi keseluruhan pemain, dan semua berusaha memajukan bola walau hanya satu langkah kedepan, dan dengan melihat satu lapangan besar yang berisi keseluruhan pemain, setiap orang akan melihat sampai sejauh mana bola itu bergulir.
IAIC sekarang, berbeda dengan IAIC yang lampau, berbeda dengan IAIC yang dahulu dibentuk, berbeda dengan IAIC dua atau empat tahun yang lalu. Setiap kepengurusan IAIC memberikan warna dominan terhadap laju IAIC, apakah IAIC butuh Visi dan Misi Organisasi, atau biarkan hanya Visi dan Misi Kepengurusan, akan saya kupas pada kesempatan berikutnya..
IAIC sekarang adalah IAIC yang ingin lebih membuka dirinya ke dunia luar, memberikan manfaat yang sebesar-besar apa yang bisa dilakukannya, tanpa menghilangkan poin dasar dari IAIC itu sendiri, yakni tali silaturahmi.
Berangkat dari perubahan itu, ada dua poin yang digarisbawahi dan yang menjadi langkah yang mesti dikukuhkan terus pada IAIC dan anggotanya, yakni pengeratan tali silaturahmi dan dedikasi pada masyarakat luas.
Sampai kepengurusan ini (2004-2006) pengejewantahan dari dua poin diatas di diferensiasi (dibagi) pada struktur kepengurusan yang ada, yakni IAIC wilayah yang bertanggung jawab atas suksesnya pengejewantahan dari poin pertama, yaitu silaturahmi dan IAIC pusat yang bertanggung jawab atas pengejewantahan atas poin yang kedua, yakni dedikasi untuk masyarakat luas.
Masyarakat luas sendiri berdasarkan definisi AD/ART dan GBPK yang ada adalah, Agama, Bangsa, dan Insan Cendekia, dimana Insan Cendekia itu sendiri diartikan sebagai Pengembangan Sumber Daya Manusia atau yang lebih dekat yaitu dunia pendidikan.
Differensiasi IAIC ini hendaknya menjadi perhatian bagi kita semua, bahwa IAIC sudah memulai langkahnya untuk maju kedepan, dan saatnya untuk memajukannya lagi satu langkah kedepan. Semua pihak yang ada diwilayah dan berkontribusi melalui pusat hendaknya saling mengingatkan mana porsi besar yang harus kita lakukan pada setiap kegiatan yang ingin IAIC lakukan, poin silaturahmi atau poin dedikasi, lalu kemudian melihat dari wadah yang kita diami, atas nama wilayah atau atas nama pusat, yang menjadikan fokus kegiatan yang kita lakukan menjadi berbeda pula.
Perubahan yang signifikan kedua yang ada dalam IAIC adalah pemetaan SDM berdasarkan tahun kelulusannya dari Insan Cendekia. Dimana pembagian yang ada menjadikan aktifitas masing-masing anggota IAIC terkonsentrasi pada wilayah atau pusat, pada poin silaturahmi atau dedikasi.
Tahun pertama sampai ke tiga kelulusan menjadikan para alumni mengkonsentrasikan diri ke wilayah, artinya terfokus pada silaturahmi, main-main-dan main, becanda-becanda-dan becanda, rame-ramean, dll. Pada tahun ini observasi dan pematangan nilai-nilai silaturahmi harus digalakkan, kegagalan pematangan nilai silaturahmi oleh wilayah dan para anggota wilayah lainnya menjadikan porsi kegegalan IAIC untuk mendedikasikan dirinya ke masyarakat luas mengalami perlambatan yang tak perlu.
Tahun keempat dan seterusnya, menjadikan alumni lebih terkonsentrasi pada dedikasi tanpa batas ke masyarakat luas dan IAIC itu sendiri. Artinya keterbatasan akan mobilitas menjadikan pola pendedikasian ini harus terus diefisienkan dan mampu diakses semua pihak dalam IAIC.
Perubahan signifikan yang ketiga, penyesuaian struktur organisasi yang berimbas pada meluasnya kinerja pengurus yang menajdikannya memerlukan badan otonom untuk menjalankan fungsinya yang strategis, yakni pembentukan BSO, akan saya tuliskan pada kesempatan berikutnya. BSO yang dibentuk pada kepengurusan ini adalah, Koperasi IAIC, IAIC Learning Center (ILC), dan insyaallah Group Pecinta Alam IAIC yang akan diresmikan pada pendakian peradana pada ke gunung lawa, 8 desember 2006 mendatang.
Setiap BSO memiliki fungsi strategis yang akan membantu IAIC mewujudkan dua poin yang saya ungkapkan diatas. Koperasi IAIC yang mewakili Kemandirian, ILC yang mewakili Dedikasi Keilmuan dan Pecinta Alam yang mewakili Loyalitas Tinggi. Ketiga BSO ini kedepannya akan mengambil peranan penting dalam pengembangan IAIC dan anggotanya.
Tiga perubahan signifikan itu hendaknya menjadi perhatian bagi ita semua, sehingga bola yang sudah bergulir kedepan aharus dimajukan minimal dipertahankan, dan semua orang harus bertahan untuk tidak membuatnya bergulir kebelakang.
MUBES IAIC selain membawa IAIC selangkah lebih maju, juga sebagai momen membuat anggota IAIC maju dengan penggalian Informasi yang dilakukan para anggota saat MUBES berlangsung.
Inilah tema yang diusung pada MUBES IAIC ke-IV. One Step Ahead With.
Semoga MUBES kali ini memberikan manfaat yang sesuai dengan apa yang diharapkan dalam perencanaannya. Insyaallah.
Ketika semua orang sudah bertekad untuk maju, tak ada yang bisa menghalanginya, kecuali Tuhan.
Yogyakarta, 24 November 2006
--IAIC Learning Center [ ILC ]
ABDULLAH ARIFIANTO
Site: [http://www.andoide.com/]
Blog: [ http://www.andocurhat.andoide.com/ ]
YM: [ eaton_gai ]
Komik Fantasista dan Go yang sering saya baca di asrama waktu itu, yang berceritakan tentang permainan sepakbola, mengilhami satu cerita kepada saya. Yaitu tentang filosofi permainan sepakbola itu sendiri, membawa bola itu kedepan, walau cuma satu langkah semua orang harus berusaha.
Lalu, kita bercerita tentang IAIC, bila setiap orang melihat dalam satu lapangan besar yang berisi keseluruhan pemain, dan semua berusaha memajukan bola walau hanya satu langkah kedepan, dan dengan melihat satu lapangan besar yang berisi keseluruhan pemain, setiap orang akan melihat sampai sejauh mana bola itu bergulir.
IAIC sekarang, berbeda dengan IAIC yang lampau, berbeda dengan IAIC yang dahulu dibentuk, berbeda dengan IAIC dua atau empat tahun yang lalu. Setiap kepengurusan IAIC memberikan warna dominan terhadap laju IAIC, apakah IAIC butuh Visi dan Misi Organisasi, atau biarkan hanya Visi dan Misi Kepengurusan, akan saya kupas pada kesempatan berikutnya..
IAIC sekarang adalah IAIC yang ingin lebih membuka dirinya ke dunia luar, memberikan manfaat yang sebesar-besar apa yang bisa dilakukannya, tanpa menghilangkan poin dasar dari IAIC itu sendiri, yakni tali silaturahmi.
Berangkat dari perubahan itu, ada dua poin yang digarisbawahi dan yang menjadi langkah yang mesti dikukuhkan terus pada IAIC dan anggotanya, yakni pengeratan tali silaturahmi dan dedikasi pada masyarakat luas.
Sampai kepengurusan ini (2004-2006) pengejewantahan dari dua poin diatas di diferensiasi (dibagi) pada struktur kepengurusan yang ada, yakni IAIC wilayah yang bertanggung jawab atas suksesnya pengejewantahan dari poin pertama, yaitu silaturahmi dan IAIC pusat yang bertanggung jawab atas pengejewantahan atas poin yang kedua, yakni dedikasi untuk masyarakat luas.
Masyarakat luas sendiri berdasarkan definisi AD/ART dan GBPK yang ada adalah, Agama, Bangsa, dan Insan Cendekia, dimana Insan Cendekia itu sendiri diartikan sebagai Pengembangan Sumber Daya Manusia atau yang lebih dekat yaitu dunia pendidikan.
Differensiasi IAIC ini hendaknya menjadi perhatian bagi kita semua, bahwa IAIC sudah memulai langkahnya untuk maju kedepan, dan saatnya untuk memajukannya lagi satu langkah kedepan. Semua pihak yang ada diwilayah dan berkontribusi melalui pusat hendaknya saling mengingatkan mana porsi besar yang harus kita lakukan pada setiap kegiatan yang ingin IAIC lakukan, poin silaturahmi atau poin dedikasi, lalu kemudian melihat dari wadah yang kita diami, atas nama wilayah atau atas nama pusat, yang menjadikan fokus kegiatan yang kita lakukan menjadi berbeda pula.
Perubahan yang signifikan kedua yang ada dalam IAIC adalah pemetaan SDM berdasarkan tahun kelulusannya dari Insan Cendekia. Dimana pembagian yang ada menjadikan aktifitas masing-masing anggota IAIC terkonsentrasi pada wilayah atau pusat, pada poin silaturahmi atau dedikasi.
Tahun pertama sampai ke tiga kelulusan menjadikan para alumni mengkonsentrasikan diri ke wilayah, artinya terfokus pada silaturahmi, main-main-dan main, becanda-becanda-dan becanda, rame-ramean, dll. Pada tahun ini observasi dan pematangan nilai-nilai silaturahmi harus digalakkan, kegagalan pematangan nilai silaturahmi oleh wilayah dan para anggota wilayah lainnya menjadikan porsi kegegalan IAIC untuk mendedikasikan dirinya ke masyarakat luas mengalami perlambatan yang tak perlu.
Tahun keempat dan seterusnya, menjadikan alumni lebih terkonsentrasi pada dedikasi tanpa batas ke masyarakat luas dan IAIC itu sendiri. Artinya keterbatasan akan mobilitas menjadikan pola pendedikasian ini harus terus diefisienkan dan mampu diakses semua pihak dalam IAIC.
Perubahan signifikan yang ketiga, penyesuaian struktur organisasi yang berimbas pada meluasnya kinerja pengurus yang menajdikannya memerlukan badan otonom untuk menjalankan fungsinya yang strategis, yakni pembentukan BSO, akan saya tuliskan pada kesempatan berikutnya. BSO yang dibentuk pada kepengurusan ini adalah, Koperasi IAIC, IAIC Learning Center (ILC), dan insyaallah Group Pecinta Alam IAIC yang akan diresmikan pada pendakian peradana pada ke gunung lawa, 8 desember 2006 mendatang.
Setiap BSO memiliki fungsi strategis yang akan membantu IAIC mewujudkan dua poin yang saya ungkapkan diatas. Koperasi IAIC yang mewakili Kemandirian, ILC yang mewakili Dedikasi Keilmuan dan Pecinta Alam yang mewakili Loyalitas Tinggi. Ketiga BSO ini kedepannya akan mengambil peranan penting dalam pengembangan IAIC dan anggotanya.
Tiga perubahan signifikan itu hendaknya menjadi perhatian bagi ita semua, sehingga bola yang sudah bergulir kedepan aharus dimajukan minimal dipertahankan, dan semua orang harus bertahan untuk tidak membuatnya bergulir kebelakang.
MUBES IAIC selain membawa IAIC selangkah lebih maju, juga sebagai momen membuat anggota IAIC maju dengan penggalian Informasi yang dilakukan para anggota saat MUBES berlangsung.
Inilah tema yang diusung pada MUBES IAIC ke-IV. One Step Ahead With.
Semoga MUBES kali ini memberikan manfaat yang sesuai dengan apa yang diharapkan dalam perencanaannya. Insyaallah.
Ketika semua orang sudah bertekad untuk maju, tak ada yang bisa menghalanginya, kecuali Tuhan.
Yogyakarta, 24 November 2006
--IAIC Learning Center [ ILC ]
ABDULLAH ARIFIANTO
Site: [http://www.andoide.com/]
Blog: [ http://www.andocurhat.andoide.com/ ]
YM: [ eaton_gai ]
Jumat, 23 Desember 2005
iLC
iLC, iAic Learning Center adalah sebuah media untuk para iAic'rs menuangkan isi pikirannya dalam bentuk yang lebih formal, bisa berupa tulisan, foto, sket, gambar, ataupun apa saja yang bisa menjadi media yang dapat divisualkan dan diabadikan.
Tentunya disemua taman bermain pasti ada aturan bermainnya. Untuk menjadi anggota iLC idealnya memahami visi iAic, maksudnya iLC ini diperuntukkan untuk menggali pemikiran-pemikiran untuk menjadi kritik, solusi, ataupun sekedar penilaian terhadap apa yang terjadi di masyarakat. Intinya bagaimana menimbulkan kepedulian dan membagi isi pemikiran.
iLC juga mengeluarkan e-bulletin yakni LEGACY, untuk hal-hal yang lebih formal dan memiliki aturan main yang lebih ketat, yakni tulisan-tulisan ataupun pemikiran-pemikiran dari seseorang kami anggap sebagai orisinilitas dari pemikiran individu tersebut, dengan seringnya sang individu menulis, kami dapat mengobservasi dalamnya pemikiran individu tersebut yang pada akhirnya kami undang menulis pada LEGACY.
LEGACY juga memiliki nilai politis sebagai kendaraan atau barisan depan untuk membawa pemikiran-pemikiran teman-teman yang lain dalam iLC.
So, pasti tertarik gabung di iLC silakan confirm ke iaic0406@yahoo.com dan berikan identitas singkat berupa email, jenjang pendidikan yang diikuti sekarang, interest, buku unggulan dan lainnya yang dirasakan perlu.
Langganan:
Postingan (Atom)